Konsekuensi dari perang panjang di Aceh adalah peradaban Aceh yang telah lama mapan mulai melemah. Aceh sedikit demi sedikit kehilangan identitas, karakter bangsa, dan sumberdaya. Oleh: Hafas Furqani Maret 27, 2016 The history of Aceh’s civilization can be classified into two phases; the development of civilization and the decline of civilization. The first phase is …

Perang-Damai dan Dinamika Peradaban Aceh: Analisis Sejarah
Published :

Konsekuensi dari perang panjang di Aceh adalah peradaban Aceh yang telah lama mapan mulai melemah. Aceh sedikit demi sedikit kehilangan identitas, karakter bangsa, dan sumberdaya.

Oleh: Hafas Furqani
Maret 27, 2016

The history of Aceh’s civilization can be classified into two phases; the development of civilization and the decline of civilization. The first phase is started when the first Islamic kingdom established in Peurelak.

The subsequent kingdoms, Samudera Pasai and Aceh Darussalam developed further the Aceh’s civilization and reached the golden age at Sultan Iskandar Muda’s era (1607-1636).

At that time, Aceh has a complete civilization, from the structure of government, democracy, bureaucracy, economic, politics, social, culture, and law. The second phase is the decline of Aceh’s civilization. This happened when Aceh entered into an everlasting war begin with the Dutch in 1873-1903, war against Japanese (1942- 1945), Cumbok war (late 1945), DI-TII war (1953-1963), and GAM-RI war (1976-2005).

The consequence of this never-ending war is the Aceh’s civilization that has been established through out centuries is getting weak. Aceh, bit by bit, has lost his identity, nation character, and resources.

War is anti-establishment; it ruins all aspect of life that has been  established through out centuries. However, the peace agreement signed by GAM and RI in 15 Agustus 2005 brings the opportunity for Aceh to re-establish its civilization by re-structuring its democracy, culture, custom, socio-economy, socio-politics and law.

With current good development, Aceh, probably, is entering the third phase of its history, the resurgence of Aceh’s civilization. This paper is trying to do a historical analysis of the war and peace in Aceh and its consequence to the dynamic of Aceh’s civilization.


Pendahuluan

Salah satu keunikan orang Aceh, baik tua maupun muda, intelektual atau pun orang awam, adalah mereka memiliki kegemaran yang sama, yaitu suka berbicara dan mengkaji sejarah Aceh. Otto (2006) melihat fenomena ini dipicu dua hal.

Pertama, ia menunjukkan pola berpikir orang Aceh yang berbasis kuat pada masa lalu. Kedua, umumnya kesadaran sejarah terkonstruksi oleh buruknya zaman, bukan oleh adanya sejarah tertulis yang baik sebagai rujukan.

Lebih lanjut, ia mengemukakan, dalam perang Aceh 1873-2005 banyak kerusakan dan kehancuran dialami, baik yang kongkrit ataupun yang abstrak. Semua ingin dimusnahkan, bahkan termasuk apa yang ada dalam pikiran orang Aceh.

Namun, orang Aceh tetap saja bisa mengatakan: “Bahwa kami punya masa lalu yang kalian tak bisa hancurkan! Yaitu sejarah kami!” Karena itu, tidak heran, dalam kondisi dan situasi apapun, orang Aceh selalu saja berbicara akan sejarahnya.

Lebih lanjut, mungkin potongan ayat ke-2 surah Al-Hasyr menjadi landasan ideologis orang Aceh untuk mengkaji sejarah, “Fa’tabiru ya ulil abshar!” (Lakukanlah i’tibar, wahai orang-orang yang berpandangan!).

Dalam ayat tersebut Allah SWT mendesak kepada pembaca Al Qur’an untuk membaca contoh-contoh dari sejarah dan mendesak kepada si pembaca supaya menjadikannya pelajaran agar lebih bijaksana menghadapi masa depan.

Fi’il amar, ‘fa’tabiru’ dalam ayat tersebut sudah cukup menggambarkan keinginan kuat dari Allah SWT agar manusia menjadi ulul absar yang mampu memahami, memaknai, dan sadar akan peristiwa dan contoh-contoh tingkah laku umat manusia di masa lalu.

Kisah nabi dan umatnya dalam Al-Qur’an mendorong Ziaul Haque, seorang ilmuan Pakistan, menulis buku Revelation and Revolution in Islam. Ia menyimpulkan ada kaitan antara kisah-kisah umat terdahulu yang diceritakan Al-Qur’an dengan keberhasilan revolusi yang digerakkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Kesadaran akan kebenaran peristiwa tersebut, hikmah, gambaran perjuangan, derita, kepayahan, dan kesabaran para nabi menjadi contoh paripurna bagi keberhasilan perjuangan Muhammad Saw dan para sahabatnya.

Dalam usaha menggugah kesadaran terhadap peristiwa sejarah, sesuai dengan ayat di atas, kita perlu melakukan perenungan (i’tibar, reflection, contemplation).

Perenungan yang sempurna di samping dengan menghayati pengalaman masa lampau adalah juga dengan menyusun langkah gerak strategis ke depan.

Semakin dalam perenungan yang dilakukan, semakin besar kesadaran akan muncul, dan pada gilirannya akan melahirkan kebijaksanaan terhadap masa depan.

Perenungan sejarah (historical reflection) perlu dilakukan untuk melahirkan kesadaran sejarah (historical consciousness) yang akan memberikan “pengertian” terhadap berbagai peristiwa, langkah dan kebijakan yang ditempuh pada masa lalu terhadap suatu “bentuk ideal” (ideal type) masa depan demi terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat menuju sebuah kehidupan yang lebih baik dari yang sudah didapati.

Hipotesis utama mengapa kita perlu melakukan perenungan sejarah adalah bahwa semua peristiwa itu tidak terjadi dengan sendirinya (autonomous phenomena), selalu ada kaitan dan hubungan antarberbagai peristiwa masa lalu dan sekarang (linked phenomena). Kaitan-kaitan inilah nantinya yang akan menjadi bahan koreksi kita.

Makalah ini bertujuan menganalisa dinamika sejarah perang dan damai di Aceh serta konsekuensinya kepada perkembangan peradaban Aceh untuk mendapat sebuah kesadaran sejarah demi mengembangkan peradaban Aceh di masa depan.

Aceh dan sejarah peradabannya adalah sebuah diskursus unik. Berbagai tanggapan sinis seringkali terdengar ketika Aceh berbicara sejarahnya. Aceh hanya berbangga dan terbuai dengan romantisme sejarah, Aceh telah “mati” terbunuh dengan sejarahnya sendiri sehingga tidak bangkit lagi, atau sejarah Aceh tidak lain adalah pengulangan kisah-kisah yang membosankan tentang peperangan dan heroisme pejuang.

Terlepas dari berbagai pandangan ini, Aceh terus mencipta sejarah dan terus berbicara akan sejarahnya. Karena itu, yang harus kita lakukan sebenarnya adalah berhenti sekadar berbangga terhadap kegemilangan sejarah, berhenti mengeluh dan meratapi penderitaan, dan sebagai gantinya kita harus membahas kegemilangan dan penderitaan itu kemudian menganalisisnya demi sebuah “kesadaran”.

Ada berbagai pandangan tentang tahapan-tahapan sejarah Aceh. Kamaruzzaman (2006) membagi sejarah Aceh kepada lima babak. Babak pertama, adalah kedatangan Islam berikut dengan munculnya beberapa kerajaan Islam.

Babak kedua merupakan sejarah episode cemerlangnya para ulama dalam menulis beberapa karya tentang studi Islam. Babak ketiga manakala Aceh menghadapi para penjajah mulai dari Portugis, Belanda, hingga Jepang.

Babak keempat adalah episode hubungan Aceh dengan Republik Indonesia yang dipenuhi dengan janji dan darah. Dan babak kelima, muncul setelah tsunami menerpa Aceh.

Babak yang terakhir ini menurutnya merupakan titik balik sejarah Aceh yang mempunyai potensi membawa Aceh ke arah yang lebih baik terutama setelah perdamaian tercetus.

Saya sendiri lebih suka membagi sejarah Aceh kepada tiga bagian. Pertama, masa pembentukan dan pengembangan peradaban. Kedua, masa kemunduran peradaban.

Ketiga, masa kebangkitan kembali peradaban. Babak pertama sejarah Aceh dimulai dari pembentukan kerajaan Islam Aceh yang pertama di Pereulak, Aceh Timur. Pada masa ini, Aceh membangun peradabannya menjadi sebuah peradaban yang dominan di Nusantara.

Silih berganti kerajaan Islam Aceh memberi corak peradaban Aceh, mulai dari Kerajaan Islam Samudra Pasai sampai Kerajaan Islam Aceh Darussalam yang berpusat di Banda Aceh.

Puncak kegemilangan evolusi peradabanAceh adalah pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Pada masa itu, Aceh memunyai struktur peradaban yang sangat lengkap mulai dari pola administrasi pemerintahan, kebudayaan, kesenian, adat istiadat, sampai undang-undang.

Sejarah Aceh sejak dari awal pembentukan diwarnai Islam. Sudah menjadi kesepakatan umum, daerah yang pertama sekali masuk Islam di Nusantara adalah Aceh; di sinilah kerajaan Islam yang pertama lahir, yang menandakan dimulainya peradaban Islam.

Identitas Islam terus mewarnai perjalanan peradaban ini. Hal yang unik dari keislaman Aceh ialah, ia tidak hanya sebagai agama yang dipakai dalam keseharian dan kebudayaan, tetapi juga menjadi ideologi yang telah menyatu dengan Aceh.

Islam menjadi dasar negara untuk sebuah pemerintahan baru yang kemudian dibentuk dan menjadi pedoman hukum tertinggi negara tersebut.

Perkataan Gibb yang terkenal: “Islam sesungguhnya lebih dari satu sistem agama saja, ia adalah satu peradaban yang lengkap” menjadi terbukti bahwa rakyat Aceh pada masa itu, dengan kecerdasan yang tinggi, ketaatan kepada Tuhan, dan dinamika sosial-budaya yang beragam, berhasil memanifestasikan Islam dalam sebuah peradaban madani.

Semua tingkah laku negara dan rakyat berdasarkan Islam. Ini terangkum dalam sebuah adagium: adat bak po teumeuruhom, hukom bak syiah kuala, kanun bak putroe phang, reusam bak laksamana.

Dari sini pula, Islam kemudian bekembang dan menjadi agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Nusantara. Islam di Aceh telah menjadi sebuah peradaban yang mewarnai perjalanan hidupnya di hari-hari selanjutnya.

Ajaran Islam yang diterima langsung dari sumber asalnya (Mekah dan Madinah) membuat Aceh memiliki corak keislaman yang khas.

Proses penyatuan Islam dengan adat setempat berlangsung sangat sempurna, sehingga sering dikatakan adat Aceh adalah Islam dan Islam telah menjadi adat rakyat Aceh (adat ngon syara’ lagee zat ngon sifeut).

Semangat egaliter dan peradaban yang terbuka turut pula menjadikan daerah ini memiliki peradaban yang tinggi (kosmopolit) dan lebih cepat maju seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman.

Hal ini didukung pula oleh letaknya yang sangat strategis, menjadi lalu lintas Nusantara dan kebudayaan di Asia dan Eropa (India, Arab, Turki, Cina, dan Eropa), menjadikan Aceh sebagai negeri bandar. Peradaban yang kosmopolit ini tak pelak lagi menjadikan Aceh lebih maju dibanding kerajaan lain di Nusantara.

Aceh, Perang dan Damai

Masa selanjutnya, yaitu babak kedua adalah masa kemunduran peradaban yang dimulai sejak perang melawan Belanda dimulai yaitu pada tahun 1873. Perang mempertahankan kedaulatan.

Ini menghabiskan banyak biaya dan sedikit demi sedikit melemahkan peradaban yang sudah mapan dibangun. Dalam masa ini tenaga dan pikiran tidak lagi dicurahkan untuk membangun peradaban, tetapi lebih kepada usaha mempertahankan diri dengan mengalahkan musuh di medan pertempuran.

Kehidupan rakyat Aceh juga lebih banyak berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk bergerilya (nomadic).

Setelah Belanda mendeklarasikan Perang dengan Kesultanan Aceh pada 1873, Aceh secara terus menerus bergolak. Perang menghadapi Jepang (1942-1945), Perang Cumbok (akhir 1945), perang DI-TII (1953-1963), dan yang terakhir perang GAM-RI (1976-2005).

Perang yang seakan tidak pernah reda ini hampir saja menimbulkan rasa apatis pada rakyat Aceh terhadap kemungkinan wujudnya perdamaian di Aceh.

Konsekuensi dari perang panjang yang terjadi selama ini adalah peradaban Aceh yang telah lama mapan mulai melemah. Aceh sedikit demi sedikit kehilangan identitas, karakter bangsa dan sumberdaya. Ini terjadi karena peperangan yang sangat panjang dan melelahkan.

Perang sangat antikemapanan, merusak seluruh sendi kehidupan yang telah disusun berabad-abad. Hari ini adalah masa-masa kemunduran Aceh, di mana kita terpuruk di bidang politik (depolitisasi), ekonomi (eksploitasi), budaya (pelumpuhan budaya), dan juga agama (sekularisme).

Aceh telah kehilangan semua identitasnya dalam bidang-bidang tersebut. Hari ini adalah juga masa di mana Aceh berhadapan dengan konflik yang sangat panjang, yang menyebabkan hilangnya ribuan nyawa manusia dan banyak harta benda.

Dalam masa-masa ini juga potensi sumber daya manusia Aceh terus berkurang, Aceh kehilangan pemimpin-pemimpin cerdas, Aceh juga kehilangan ilmuan-ilmuan.

Kejatuhan kegemilangan Aceh ini ditandai pula dengan hilangnya identitas keislaman dan keacehan yang diganti dengan identitas sekuler dan keindonesian.

Secara perlahan keduanya menghilangkan peradaban yang sudah mapan dibangun. Identitas negara baru, yang merupakan perpaduan berbagai daerah dan bangsa yang terletak di sepanjang gugusan Nusantara, ternyata memunyai corak keislaman dan peradaban yang berbeda, sehingga tolak tarik dan persinggungan terlihat sepanjang perjalanan sejarah.

Walaupun Aceh diakui telah memberikan sumbangan yang signifikan terhadap tegaknya negara ini, namun ternyata sepanjang perjalanannya kedua identitas ini sangat tidak harmonis.

Berbagai ketidakpuasan telah melahirkan konflik yang sangat panjang sepanjang sejarah Nusantara. Aceh melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Konflik yang berlangsung sampai sekarang juga nantinya mempunyai cerita sejarah tersendiri dalam perjalanan peradaban Aceh.

Namun begitu, sejarah berbicara lain, GAM dan RI sepakat menandatangani MOU yang berisi perjanjian damai dengan sejumlah paket kesepakatan untuk membawa Aceh ke tahap yang baru.

Penulis adalah mahasiswa program Ph.D of Economics di International Islamic University Malaysia | Aceh-eye.org