Pada abad ke 14 wilayah Kesultanan Samudera Pasai menuai masa kejayaan. Kejayaan itu di buktikan dengan kemampuan kesultanan Samudera Pasai membuat mata uang emas pada masa Sultan Malik Al Dhahir (1297-1326) pada abad ke 13.

Mata Uang Kerajaan Samudera Pasai
Published :

W ilayah kekuasaan Kesultanan Samudera Pasai terletak pada daerah yang diapit dua sungai besar di pantai utara Aceh yaitu sungai Peusangan dan sungai Pasai.

Sementara itu ada pula yang berpendapat wilayah kesultanan Samudera Pasai lebih luas lagi ke selatan yaitu sampai dengan muara sungai Jambu Anyer.

Bisa disimpulkan yang jelas bahwa letak Kesultanan Samudera Pasai adalah daerah aliran sungai yang hulu-hulunya berasal jauh di pedalaman dataran Tinggi Gayo (Aceh Tengah).

Bisa disebutkan mata uang kerajaan Samudera Pasai adalah mata uang emas pertama yang dikeluarkan nusantara oleh kerajaan islam dengan oranamen islam (tulisan arab) yang tertulis dalam sisi atas dan sisi bawah, karena pada masa-masa sebelumnya kerajaan nusantara lain juga sudah mengeluarkan mata uang dari emas.

Samudra_Pasai
Wilayah Samudera Pasai

Ada yang menyebutkan bahwa mata uang kerajaan Samudera Pasai ini sangat halus pengerjaanya dibandingkan mata uang logam perak di Jawa.

Deurham, deureuham, derham, dirham, dramas atau ada yang menyebutkan dinar emas adalah nama penyebutan mata uang kerajaan Samudera Pasai, mata uang logam yang dikeluarkan oleh Sultan Malik Al Dhahir.

Mata uang logam emas yang terbuat dari serbukan emas dan perak dengan sisi atas tertulis Muhamad Malik Al-dhahir pada sisi bawahnya tertulis Al-Sultan Al-Adil mempunyai garis tengah 10 mm berat 0,6 gram dengan mutu 18-20 karat.

Sumber lain menyebutkan diameter deurham 1 cm dengan berat 0,57 gram dan mempunyai mutu atau kandungan emas 17-19 karat. Ada pula yang menyebutkan deurham mempunyai kandungan emas yang sepadan dengan 40 grains atau 26 gram.

Sisi Bawah Deurham
Sisi Bawah Deurham

Adapun pengeluaran uang Kesultanan Samudera Pasai harus memenuhi peraturan bahwa seluruh Sultan Samudera Pasai perlu menuliskan frasa Al-Sultan al-Adil pada durham yang dikeluarkan para Sultan Samudera Pasai. ‘Adil berarti keadilan, yang selalu diharapkan manusia zaman dahulu atau pun zaman sekarang.

Deurham bukanlah salah satunya mata uang keluaran Kesultanan samudra pasai karena menurut pendapat yang bersumber pada buku Ying Yai Sheng Lan karya Ma Huan, di tulis dan diterjemahkan oleh Laksamana Muslim Cheng Ho dari Cina saat berlayar  ke Sumatera Utara (1405 – 1433.

Disebutkan bahwa mata uang Kesultanan Samudra Pasai selain  dinar emas atau deurham, Kesultanan SamudraPasai juga menggunakan mata uang yang terbuat dari timah yang disebut keueh. Sumber lain menyebutnya ceitis. Kueh atau ceitis digunakan untuk nilai alat tukar langsung di pasar, yang mempunyai nilai 1.600 kueh = 1 deurham.

Sisi Atas Deurham
Sisi Atas Deurham

Sedangkan nilai deurham pernah dibandingkan dengan mata uang Portugis crusade yaitu 9 deurham sama dengan 1 crusade yang juga sama dengan 500 cash.

Pada tahun 1524 M setelah Kerajaan Aceh Menakhlukan Kesultanan Samudera Pasai tradisi mencetak deurham menyebar keseluruh wilayah Sumatera, bahkan semenanjung Malaka dengan Aceh sebagai corongnya.  Derham tetap berlaku sampai bala tentara Nippon mendarat di Seulilmeum, Aceh Besar pada tahun 1942.

Pada masa sekarang deurham bisa kita temukan di museum Aceh atau para kolektor seperti seorang pribumi bernama Ibrahim Alfian (1973) seorang pakar Aceh yang juga mengemukakan hasil analisanya tentang deurham yang menjadi koleksi pribadinya atau yang berada di musem Aceh yang bisa dikenali diantaranya :

– Masa Pemerintahan Sultan Muhamad (1326 – 1345 Masehi)

– Masa Pemerintahan Sultan Zainal Abidin (1371 – 1405 Masehi)

– Masa Pemerintahan Sultan Abu Zaid Malik ad Dhahir (? Masehi)

Deurham menjadi sumber penting sebagai bukti bahwa pada abad ke-13 masyarakat nusantara telah mampu menciptakan mata uang logam emas sendiri sebagai alat tukar.

Deurham juga saksi  bahwa kemajuan Kesultanan Samudera Pasai pernah menjadi pelabuhan perdagangan terpenting yang maju dan menjadi penghubung antara pedagang- pedagang nusantara dan luar nusantara.