Indigenous

Masyarakat Adat Ciptagelar, Sukabumi; Penjaga Budaya Sunda

Comments (4)
  1. hikmat says:

    itu maaf bukan nganjaran tapi nganyaran…salaaam

  2. pandu says:

    permisi mas,,, saya baca hasil risetnya cukup mendskripsikan desa cipta gelar dari berbagai aspek
    mau tanya, apa di desa kasepuhan cipta gelar bisa untuk penelitian serupa dengan jumlah peserta yang cukub banyak? sekitar 90-100 orang?
    -makasih-

  3. esa says:

    Pnjajah+pakr2nya punya banyak cara mngalih mngkburkn,dsb sjarah krajaan2 n rakyatnya senusantara,trmasuk sjarah smua krajaan2 n rakyatnya di ‘tanah sunda’ yg ‘hilang’ istana2nya?. Slh 1 caranya mngganti,mnukar,’mnutupi’ nama2 asli tmpat,gunung,sungai,dll(yg ada dlm naskah2 kuno asli tapi yg sudah ‘dijamah’ oleh pnjajah) dgn nama2 bhs pnjajah n nama2 bhs suku. Tiap krajaan biasanya punya ciri khas bntuk ragam gambar,ukir pahat pd pondasi,umpak,tiang,tmbok,atap pd bkas ‘rruntuhn’ istana, pun juga krajaan pajajaran bukn krajaan miskin, pasti mmiliki bangunan bratap pribadatan. Punden brundak,batu2 tanpa ukiran2 paht khas ragam hias sunda itu pninggalan lain jauh sblum jaman krajaan pajajaran.

  4. esa says:

    Pakr2 indo mayoritas nurut ‘apa kata’ pakr2 pnjajah, tdk ada kmandirian mnliti,dsb mmbuat rujukn sumbr sjarah sndiri. Masyarakat dahulu mmang pandai mnjaga kseimbangan alam, tdk sprti manusia2 srakah jaman2 ini dgn brmcm2 alasan pmbnaran diri mndirikn proyek2 bsar di kwasan2 pgunungan,pantai,dll shingga diganggu kseimbangan alam,bncana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *