Masyarakat Aceh mengenal suatu upacara penamatan membaca kitab Al Qur’an yang disebut khatam. Upacara khatam dilaksanakan terhadap seseorang anak baik lelaki maupun perempuan yang sudah menamatkan pembacaan kitab suci Al Qur’an. Oleh: Priscilla Agnes Mei 21, 2012 Upacara tersebut bermaksud untuk memperoleh keberkatan dari Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa si anak itu sudah berhasil menamatkan …

Upacara Khatam, Tradisi Penamatan Membaca Al Qur’an di Aceh
Published :

Masyarakat Aceh mengenal suatu upacara penamatan membaca kitab Al Qur’an yang disebut khatam. Upacara khatam dilaksanakan terhadap seseorang anak baik lelaki maupun perempuan yang sudah menamatkan pembacaan kitab suci Al Qur’an.

Oleh: Priscilla Agnes
Mei 21, 2012

Upacara tersebut bermaksud untuk memperoleh keberkatan dari Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa si anak itu sudah berhasil menamatkan kitab suci Al Qur’an.

Disamping itu, upacara ini juga mempunyai makna sebagai tanda berterima kasih kepada tuangku mengaji yang telah membimbing dan menuntun anak berhasil dapat menamatkan pembacaan kitab suci Al Qur’an.

Upacara Khatam ini berlangsung dirumah orangtua dirumah tengku atau di tempat mengaji. Pelaksanaan dirumah orang tuanya ini sudah tentu dilakukan dengan acara makan bersama, dan terlibat kerabat pihak ayah dan pihak ibu.

Sedangkan upacara dirumah tengku atau di tempat mengaji dilakukan apabila upacara ini dilangsungkan dalam bentuk yang sederhana.

Tingkat kemeriahan upacara yang dilangsung ada juga yang memotong kambing, bila ada mahar. Upacara khatam dalam bentuk terakhir biasanya dilaksanakan dengan jamuan makan kepada para dusanak dan tetangga sebagai tanda syukuran.

Tentu saja pada malam upacara itu, ia akan mengundang tuangku mangaji sebagai tanda menyatakan terima kasih. Upacara khatam biasanya berlangsung pada malam hari. Meskipun Pemilihan waktu tersebut tidak ada suatu ketentuan yang pasti.

Pada saat upacara khatam, anak yang bakal dikhatam mengenakan pakaian rapi dan bagus. Kalau anak lelaki, ia mengenakan kain sarung, baju dan peci. Dan kalau anak perempuan ia mengenakan pakaian yang tertutup, kain sarung, dan selendang atau kerudung.

Anak yang sudah mengenakan pakaian membawa nasi pulut atau bereteh dan atau nasi kuning ke rumah tuangku mangaji atau manasah. Kadangkala orang tuanya ikut juga datang bersama.

Proses kegaitan upacara selanjutnya dimulai dengan membaca al Qur’an oleh anak yang dimulai dari ayah al fatihah, dan diterus-kan lagi dengan beberapa ayat lainnya.

Kelangsungan acara ini turut disaksikan oleh teman-temannya dan para hadirin, disamping tengku dengan tekun menuimak pembacaan tersebut.

Setelah selesai lalu tengku mengambil bereteh atau nasi kuning untuk disuap kedalam mulut anak. Kemudian kadang ada juga yang melakukan ritual mengambil ketan lalu ditaruh di kedua telinga anak. Semua kegiatan tersebut dimulai dengan membaca bismillah.

Bereteh dan ketan atau nasi kuning yang lebih, dibagi-bagikan kepada kawannya yang sepengajian dan para hadirin. Dengan demikian berakhirlah upacara khatam, dan anak yang bersangkutan secara resmi lepas dari bimbingan tuangku mangaji.

Project Inventarisasi bersama kebudayaanIndonesia.net