Bahasa Ternate dipertuturkan di daerah Ternate, khususnya di pulau Ternate, Kavoa, Bacan, Obi, serta bagian barat pantai utara Halmahera. Bersama bahasa Tidore dan sejumlah bahasa lainnya, bahasa Ternate merupakan bagian dari rumpun bahasa Halmahera Utara. Oleh: Putra Batara September 7, 2012 Bahasa Ternate mendapat banyak sekali pengaruh dari berbagai bahasa lain, baik bahasa asing (Eropa …

Bahasa Ternate Sebagai ‘Lingua Franca’ di Maluku Utara
Published :

Bahasa Ternate dipertuturkan di daerah Ternate, khususnya di pulau Ternate, Kavoa, Bacan, Obi, serta bagian barat pantai utara Halmahera. Bersama bahasa Tidore dan sejumlah bahasa lainnya, bahasa Ternate merupakan bagian dari rumpun bahasa Halmahera Utara.

Oleh: Putra Batara
September 7, 2012

Bahasa Ternate mendapat banyak sekali pengaruh dari berbagai bahasa lain, baik bahasa asing (Eropa dan Asia) maupun bahasa dari wilayah nusantara lainnya, terutama sekali Melayu.

Sebelumnya perlu dipahami, istilah “bahasa Ternate” merujuk pada dua konsep, yakni “dialek Ternate” dan “bahasa Ternate”. Konsep yang pertama mengandung arti bahwa dialek Ternate atau dikenal juga sebagai “bahasa Melayu Ternate”, “bahasa Melayu Maluku Utara” atau “bahasa pasar”, merupakan gaya bicara dan tekanan suara serta intonasi yang sering dipakai oleh masyarakat di Ternate dan sekitarnya.

Dalam praktiknya, dialek Ternate ini dominan dengan kosakata Melayu, yang terkadang dicampur dengan bahasa asli Ternate, misalnya kata ganti orang, seperti “ngana” (kamu), “kita” (saya), dan “kitorang” (kita). Dialek Ternate ini merupakan lingua franca di kawasan Maluku Utara.

Sementara konsep kedua, bahasa Ternate adalah bahasa asli Ternate itu sendiri, dengan kosakata asli bahasa Ternate yang lebih banyak. Dialek-nya tidak jauh berbeda dengan bahasa pasar.

Perbedaannya terletak pada intonasi yang digunakan. Terdapat perbedaan intonasi dalam berbicara antara masyarakat Ternate Selatan, masyarakat Ternate Utara, masyarakat di pulau Hiri, juga di kalangan penutur bahasa Ternate di belahan lain di Maluku Utara.

Walau tidak se-ketat bahasa Jawa, bahasa Ternate juga mengenal undhak-undhuk, atau aturan pemakaian berbahasa yang mempertimbangkan peran sosial para penguna bahasa tersebut. Misalnya, untuk menyebut kata “aku” dalam percakapan sehari-hari dengan orang yang sederajat, penutur cukup menggunakan kata “ngori”.

Tetapi jika berbicara dengan orang yang lebih tua atau dianggap lebih tinggi derajatnya, maka kita harus memilih kata “fangare”, sebagai tanda merendahkan diri.

Kemudian, apabila kita berbicara dengan orang yang dianggap sederajat, maka kita cukup menyebut kata “kamu” dengan menggunakan kata “ngana”, akan tetapi apabila lawan bicara tersebut lebih tua atau lebih tinggi derajatnya dengan penutur, maka penutur menyebutnya dengan kata “jou” atau “jou-ngon”, sebagai tanda penghormatan.

Pengaruh Bahasa-bahasa Lain

Dalam sejarahnya, Ternate merupakan salah satu daerah penting di kawasan timur Nusantara, yang merupakan salah satu sentra perdagangan yang ter-sibuk di Nusantara.

Dalam berdagang komoditas, terutama rempah-rempah dengan kelompok-kelompok lain, sering digunakan bahasa Melayu (lingua franca). Sebagai hasil , hari ini cukup banyak kosakata Melayu yang diserap ke dalam bahasa Ternate.

Selain bahasa Melayu, bahasa Nusantara lainnya yang juga memengaruhi bahasa Ternate adalah bahasa Jawa, bahasa Bugis (Sulawesi Selatan) dan bahasa Bare’e (Sulawesi Tengah).

Sementara itu, bahasa asing yang juga turut menyumbangkan kosakata ke dalam bahasa Ternate, terutama adalah bahasa Arab, Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, dan Cina.