Jika perbedaan adalah warna, dan kesatuan sebagai bingkainya, maka Hamaren adalah satu dari berjuta harmoni yang indah pada kanvas kehidupan di Nusantara. Di dalam kehidupan kolektif bermasyarakat, pasti terdapat saling ketergantungan antar individu. Agar kondisi tersebut bergerak dengan harmonis maka diperlukan keteraturan sosial. Adanya keinginan untuk mewujudkan keteraturan sosial itu, maka kesadaran akan saling ketergantungan …

Hamaren; Falsafah Kolektif Masyarakat Kei
Published :

Jika perbedaan adalah warna, dan kesatuan sebagai bingkainya, maka Hamaren adalah satu dari berjuta harmoni yang indah pada kanvas kehidupan di Nusantara.

Di dalam kehidupan kolektif bermasyarakat, pasti terdapat saling ketergantungan antar individu. Agar kondisi tersebut bergerak dengan harmonis maka diperlukan keteraturan sosial. Adanya keinginan untuk mewujudkan keteraturan sosial itu, maka kesadaran akan saling ketergantungan itu kemudian membentuk ikatan-ikatan sosial.

Pada masyarakat Kei, awalnya, bahkan hingga abad ke-15, kesadaran untuk mengharmoniskan hubungan sosial muncul dengan upaya yang efektif dan terstruktur. Dari upaya penataan hidup bersama dalam suatu sistem masyarakat yang beradab, hal inilah cikal bakal dari lahirnya Hamaren.

Hamaren berasal dari kata: Mel – Ren, yang merujuk pada kerja tolong menolong antara kasta Mel-mel alias kelas bangsawan dan Ren-ren alias kelas menengah. Jadi, Hamaren adalah Mel-mel dan Ren-ren bersama-sama, bekerjasama, dan bergotong-royong.

Hasil kerja tolong menolong antar kedua kasta ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup bersama. Dan secara etimologis berdasarkan pada pengertian Hamaren, merujuk pada kata Ham dan Ar, terselip pengertian “banyak” atau majemuk. Dalam hal ini berarti keterlibatan masyarakat. Artinya pekerjaan yang diselesaikan secara bersama untuk kepentingan bersama.

Secara filosofi, Hamaren, dalam masyarakat Kei mengandung dua dasar pemikiran yang dapat mempersatukan dua kasta dalam suatu pekerjaan. Dengan semboyan: kesil kerbau bo, tes tatotnam hoar yarut.

Artinya kalau ada musyawarah dan kerjasama antara Mel-mel dan Ren-ren, tentu suatu pekerjaan akan terselesaikan. Dan Mel-mel ni sus, intub fo Ren-ren ni sus, Ren-ren ni sus, intub fo Mel-Mel ni sus. Artinya kesusahan Mel-mel adalah juga bagian dari kesusahan Ren-ren, demikian juga sebaliknya.

Dengan demikian, Hamaren dipahami sebagai tanggung jawab bersama seluruh warga masyarakat. Serta menjadi pilihan tepat dalam rangka menyelesaikan berbagai jenis pekerjaan. Baik sifatnya individual maupun komunal. Pekerjaan tersebut dilaksanakan secara spontan dan sukarela, tanpa pamrih.

Bisa dikatakan bahwa Hamaren adalah wahana pemersatu seluruh warga masyarakat Kei. Karena di dalamnya terkadung nilai-nilai kesatuan dan kerjasama. Hal tersebut diungkapkan melalui 4 prinsip, yaitu:

Tafoing fo kut ceinmehe, tafau banglu watu, artinya persatuan dan kesatuan itu bagaikan lidi-lidi yang diikat dan dipadukan menjadi satu kesatuan yang utuh. Sehingga dapat digunakan untuk mengeluarkan debu atau kotoran dari dalam rumah maupun halaman rumah.

U welwel ai rangrang, artinya persatuan, kesatuan dan kerjasama antara pemimpin dan yang dipimpin dapat memungkinkan suatu pekerjaan terselesaikan dengan baik.

Belan in so yaat in wel, artinya persatuan dan kerjasama untuk melaksanakan suatu pekerjaan berjalan sangat lancar hingga selesai, baik di darat maupun di laut. Kelancaran pekerjaan itu, diandaikan seperti sekelompok orang yang sedang mendayung perahu dengan laju (belan in so).

Vat ranem ika lutur, ai ranem ika ngeam, artinya persatuan dan kesatuan itu sama seperti batu-batu yang terkumpul menjadi pagar batu (lutur), dan kayu-kayu dikumpulkan menjadi pagar kayu (ngean).

Ungkapan-ungkapan di atas menyatakan makna pentingnya kesatuan yang diterjemahkan ke dalam bentuk kerjasama. Demi tercapainya kesuksesan yang gemilang. Karena apabila suatu pekerjaan dilakukan secara bersama-sama, seberat apa pun itu akan menjadi mudah. Inilah falsafah gotong royong kenusantaraan kita yang terdapat dalam kebudayaan masyarakat Kei.