Membicarakan tokoh yang berpengaruh di Kesultanan Palembang maka akan membicarakan pula sejarah di masa lalunya. Di ceritakan sebagai asal muasal Kesulatanan Palembang, Arya Damar diketahui sebagai pendiri Kesultanan tersebut. Oleh: Putra Batara Juli 27, 2013 Tidak ada yang tahu pasti di tahun berapa ia lahir dan perkembangan di masa kecilnya, hingga Aria Damar masuk ke …

Aria Damar dalam Sejarah Kesultanan Palembang
Published :

Membicarakan tokoh yang berpengaruh di Kesultanan Palembang maka akan membicarakan pula sejarah di masa lalunya. Di ceritakan sebagai asal muasal Kesulatanan Palembang, Arya Damar diketahui sebagai pendiri Kesultanan tersebut.

Oleh: Putra Batara
Juli 27, 2013

Tidak ada yang tahu pasti di tahun berapa ia lahir dan perkembangan di masa kecilnya, hingga Aria Damar masuk ke dalam pemerintahan kerajaan Sriwijaya kiprahnya mulai diperhatikan banyak pihak. Sebagai seorang pendatang di Palembang, Arya Damar tentu membawa pengaruh dari kerajaan bahkan tradisi dari daerah asalnya. Arya Damar lahir menjadi tokoh yang cukup terkenal, selain juga karena kesuksesan yang diraih anak-anaknya dalam memperluas kekuasaan.

Datang sebagai utusan dari Kerajaan Sriwijaya untuk memperluas kekuasaaan, Aria Damar yang sedikit demi sedikit membuat perubahan pada dirinya, memilih untuk memeluk agama Islam. Namanya pun berganti menjadi Aria Dilah yang kemudian menikahi putri dari saudara Demang yang bernama Putri Sandang Biduk.

Saat itulah Aria Dilah mulai dapat memengaruhi system pemerintahan di sana. Ia akhirnya dipilih menjadi raja di Palembang dengan masa kepemimpinan 1445-1486. Tujuan dari kedatangan ia ke negeri ini pun perlahan mulai mencapai kesuksessannya. Selama masa kepemimpinannya tidak ada masalah yang beraarti, sekalipun peperangan yang dihadapinya.

Walau bagaimana pun juga, latar belakang Aria Damar sebagai utusan Sriwijaya tidak bisa melepaskan darahnya begitu saja. Bahkan hubungan Palembang saat itu dengan sriwijaya juga cukup baik. Nama Aria Damar kembali menggema saat ayahnya Prabu Brawijaya mengiriminya seorang putri Cina yang sedang mengandung untuk mengurusnya.

Tidak hanya sampai disitu, putri Cina tersebut adalah adalah istri ayahnya dan anak yang dikandungnya adalah adiknya sendiri. Dalam kurun waktu ynag tidak lama, Aria Damar akhirnya menikahi putri Cina tersebut. Tentu saja hal ini sontak menjadi berita yang menggema di kesultanan, tetapi hal itu diacuhkannya.

Putri Cina tersebut akhirnya melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Raden Fatah. Raden Fatah adalah anak sekaligus adik tirinya yang ia asuh dengan baik, bahkan Raden Fatah diajarkan tentang agama Islam oleh Aria Damar hingga ia besar. Sedangkan anak yang lahir dari buah cintanya dengan putri Cina tersebut dinamakan Raden Kusen.

Saat itu daerah kekuasaan yang dipegang oleh Aria Damar belum begitu terlihat, mungkin ini juga diakibatkan oleh permasalahan intern dirinya yang terlalu memakan fokus Aria Damar sendiri.

Namun, dengan lahirnya Raden Fatah yang dikenal sebagai anak keturunannya yang Berjaya di Kerajaan Demak cukup mengharumkan pula nama Aria Damar dan Kesutanan Palembang karena pada masa itu di Kerajaan Demak I, Kesultanan Palembang cukup dikenal di masyarakatnya selain sebagai tempat perdagangan juga hubungan yang kuat diantara keduanya.

Hingga sekitar tahun 1547-1552 saat Kerajaan Demak mengalami serangan, masyarakatnya datang berbondong-bondong ke Palembang dan dianggap sebagai kebangkita kedua Kesultana Palembang. Ki Gede Ing Suro yang dikenal sebagai Sultan Palembang adalah saudagar Demak, masyarakat Raden Fatah yang merupakan keturunan Ario Damar.

Tidak dicatat pula kapan Aria Damar meninggal dunia dan diakibatkan oleh apa. Namun, sejak itu nama Aria Damar cukup diperhitungkan dan tetap dicatat sejarah sebagai seseorang yang cukup berpengaruh di Palembang.

Kebijaksanaan-nya dalam memimpin, kecerdasan, dan kekuatannya dalam melindungi kesultanan cukup menjadi panutan sultan-sultan setelahnya dan tentu saja memiliki peranan dan menjadi pengaruh kuat atas berdirinya Kesultanan Palembang.