Melukiskan tujuan perkawinan pada masyarakat majemuk, seperti di daerah Istimewa Aceh, yang mempunyai adat istiadat yang demikian beragam dapat dikatakan tidak mudah, secara biologis perkawinan mempunyai tujuan dalam rangka meneruskan keturunan, demikian pula perkawinan itu mempunyai tujuan pokok untuk memenuhi hasrat seksual manusia. Antara tujuan memperoleh anak dan kebutuhan biologis, perkawinan kadang mempunyai kausal, dengan …

Perkawinan Gayo; Upacara dan Tradisi yang Berkembang
Published :

Melukiskan tujuan perkawinan pada masyarakat majemuk, seperti di daerah Istimewa Aceh, yang mempunyai adat istiadat yang demikian beragam dapat dikatakan tidak mudah, secara biologis perkawinan mempunyai tujuan dalam rangka meneruskan keturunan, demikian pula perkawinan itu mempunyai tujuan pokok untuk memenuhi hasrat seksual manusia. Antara tujuan memperoleh anak dan kebutuhan biologis, perkawinan kadang mempunyai kausal, dengan akibat hukum tertentu.

Ada pun masyarakat Gayo khususnya, mengenal bentuk-bentuk perkawinan seperti; Bentuk kawin biasa, kawin lari, dan kawin tikar. Maksud dari perkawinan biasa, sepanjang yang dikenal di dalam masyarakat Aceh Gayo, ialah perkawinan yang berlangsung menurut ketentuan norma agama, yang sekaligus berdampingan dengan norma-norma adat istiadat (hukum adat).

Norma agama yang dimaksud ialah ketentuan menurut hukum Islam, yang diperlakukan secara mutlak, tanpa meninggalkan syarat-syaratnya yang minimal untuk sah-nya perkawinan.

Berikutnya adalah bentuk kawin lari, Kawin lari pada masyarakat Gayo disebut meneik (munik) merupakan suatu bentuk perkawinan yang ditempuh dengan cara tidak biasa seperti berlaku pada perkawinan jujur. Kawin meneik itu ada yang dilakukan oleh si gadis itu sendiri ataupun dengan cara bersama-sama dengan laki-laki pasangannya.

Melihat dari cara terjadinya meneik seperti tersebut di atas, maka dapat pula dibedakan atas beberapa cara yaitu: Cara pertama disebut “tik” yaitu munaik yang paling umum terjadi pada masyarakat Gayo.

Manakala dua muda-mudi yang sudah sepakat kawin itu, tidak mendapat persetujuan orang tua si gadis, monolak pinangan pihak pemuda baik dengan cara halus ataupun dengan cara kasar. Akibat penolakan itu mereka berdua terpaksa menempuh jalannya sendiri dengan cara kawin lari atau “munaik”.

Cara kedua, disebut “muneik” yang ditempuh oleh si wanita dengan cara menyerahkan sesuatu bentuk pakaian laki-laki dengan memakai kupiah misalnya, dan kupiah ini diserahkan kepada Tuan Kadli. Hal itu tidak lain bermakna agar Tuan Kadli segera menikahkan dirinya dengan lelaki, pemilik barang tersebut di atas.

Ketiga, apa yang disebut tik sangka yaitu suatu bentuk dari kedua meneik, terjadi apabila seorang wanita lari kawin dengan seorang laki-laki idaman-nya secara bersama-sama, menuju rumah tuan kadli untuk segera minta dinikahkan. Atau dalam hal ini yang bersangkutan melarikan diri ke kampung lain.

Bentuk yang terakhir adalah bentuk kawin tikar maksud dengan kawin bentuk ganti tikar, ialah kawin dengan ipar laki-laki atau pun kawin dengan ipar perempuan apabila salah seorang pasangan (suami atau istri) meninggal dunia.

Namun secara umum apa pun bentuk perkawinannya yang ideal menurut pandangan masyarakat di Aceh apabila perkawinan itu berlangsung antara pasangan yang seimbang. Dalam istilah Aceh disebut “kawin sekufu”.

Keseimbangan yang dimaksud ialah keseimbangan menurut ukuran keturunan, strata sosial, umur, kekayaan, dan seimbang pula menurut ukuran bentuk dan paras. Hampir semua kelompok adat dianjurkan kawin dengan pasangan yang sepadan.

Karena bagi masyarakat Gayo tujuan lain dari perkawinan adalah dalam rangka peningkatan status sosial. Hal ini terlihat dari cara memandang kedudukan kelompok keluarga istri dan kelompok keluarga suami seolah-olah terdapat suatu garis pemisah yang jelas, sehingga pada kelompok adat lainnya, lebih bersifat membaur dan dipisahkan. Terlebih jika dilihat dari prinsip-prinsip hubungan kekerabatan antar diri.

Tujuan pembentukan dan pembinaan perkauman itu menunjukkan ciri yang bersifat sosial, ekonomis dan religius. Artinya perkauman sebagai suatu kesatuan inti yang mempunyai solidaritas dan sikap tolong-menolong serta rasa in-group yang sangat tebal, di samping perkauman menjadi dasar pendukung kegiatan yang bersifat ekonomis dan religius dengan suatu jaringan kerja sama dan pembagian tugas yang teratur, dalam rangka meneruskan tradisi-tradisi perkauman.