Sultan Thaf Sinar Basarsyah merupakan sultan yang cukup dikenal pada masa Kesultanan Serdang. Ia merupakan salah satu raja yang membawa Serdang pada masa kejayaan. Sultan Thaf merupakan adik dari Tuanku Zainal Abidin yang tidak diketahui kapan kelahirannya juga kapan ia meninggal dunia. Sultan Thaf Sinar Basarsyah tercatat sebagai Sultan Serdang sejak 1817 M hingga 1850 …

Sultan Thaf Sinar Basarsyah, Kesultanan Serdang
Published :

Sultan Thaf Sinar Basarsyah merupakan sultan yang cukup dikenal pada masa Kesultanan Serdang. Ia merupakan salah satu raja yang membawa Serdang pada masa kejayaan.

Sultan Thaf merupakan adik dari Tuanku Zainal Abidin yang tidak diketahui kapan kelahirannya juga kapan ia meninggal dunia. Sultan Thaf Sinar Basarsyah tercatat sebagai Sultan Serdang sejak 1817 M hingga 1850 M dengan beberapa prestasi yang diraihnya.

Sultan Thaf Sinar Basarsyah dikenal sebagai sultan yang cakap dalam menentukan strategi perang juga perdagangan. Di tangannya lah Kesultanan Serdang dapat melumpuhkan Padang dan Bedagai.

Ia mengangkat wakil sultan di sana. Kelumpuhan dua wilayah ini cukup membuat Kesultanan Serdang mencapai titik kejayaannya. Wilayah kekuasaan Serdang pun meluas di tangan Sultan Thaf Sinar Basarsyah hingga wilayah Percut, Padang Bedagai, Sinembah, Batak Timur sampai Negeri Dolok.

Di bawah kepemimpinannya, ia mengangkat beberapa Lembaga Dewan Diraja yang diperteguh, yaitu:

Raja Muda (kemudian puteranya pengganti bergelar Bendahara (Luhak Lubuk Pakam)).

Sri Maharaja (Luhak Ramunia).

Datuk Paduka Raja (Batangkuis) keturunan Kejeruan Lumu Aceh.

Datuk Maha Menteri (Araskabu) (Disebut WAZIR BEREMPAT atau Dewan Diraja, yang harus bersama Sultan memutuskan sesuatu).

Majelis Orang Besar, yaitu Sultan dan Kepala Negeri yang ditaklukkan, dan jajahan. Oleh sebab itu, Tuanku Suktan Thaf Basarsyah memakai gelar “Sri Paduka Duli yang Maha Mulia Tuanku Thaf Sinar Basarsyah Sultan Kerajaan Serdang dengan Rantau, Jajahan, dan Takluknya”.

Tidak hanya pada wilayah-wilayah tersebut, banyak raja dan kepala daerah pula yang tunduk pada Sultan Basarsyah karena sifat yang dimilikinya. Ia dikenal sebagai raja yang pemurah, adil, dan memerintah dengan cara yang lembut sehingga jarang sekali timbul perdebatan dan kerusuhan pada masa kepemimpinan-nya.

Dengan tutur kata yang lembut dan budi bahasa yang baik, ia pandai mendekati rakyatnya bahkan ketika ia dan rakyatnya mencapai puncak kemakmuran karena usaha yang telah sama-sama diberikan untuk Kesultanan.

Karena sifat dan sikap baik yang ditunjukkan sultan tersebut, pada akhirnya fungsi Sultan Serdang merambat pada beberapa fungsi lain seperti Kepala Pemerintahan, Kepala Agama Islam, dan juga sebagai Kepala Adat.

Oleh sebab itu, cukup mudah bagi Sultan untuk memajukan perdagangan dan industri demi kemakmuran rakyat. Berkat usaha yang keras, akhirnya banyak saudagar negeri-negeri lain yang mengekspor melalui Serdang termasuk dari Pantai Barat Sumatera.

Dikenal pula pada tahun 1823 M di mana Sultan melakukan perjanjian perdagangan dengan Inggris. Tercatat ekspor ketika itu berjumlah 8.000 pikul terdiri lada, tembakau, kacang putih, emas dan kapur barus. Sedangkan Inggris memasok kain-kain buatan Eropa.

Pernah juga, pada 1817 M saat masa keemasan kesultanan di atas puncak dan kemakmuran rakyat yang luar biasa menimbulkan kecemburuan kerajaan lain sehingga tertarik untuk mengambil alih kekuasaan lewat peperangan.

Salah satunya adalah keinginan Kerajaan Siak yang tidak juga cukup berhasil menguasai Serdang. Akibat dari penyerangan tersebut, Kerajaan Siak hanya mendapatkan pengakuan Sultan Sinar mengenai hegemoni Siak. Kejayaan ini terus berlangsung hingga Sultan mangkat (wafat) pada 1850 M.