Bahasa Alas adalah bahasa daerah yang masih dipelihara dengan baik oleh warga masyarakat Alas yang mendiami sebagian Kabupaten Aceh Tenggara. Selain berfungsi sebagai alat komunikasi antar keluarga dan antar masyarakat, bahasa ini juga merupakan unsur pendukung serta pengembang kebudayaan daerah,’ dan sekaligus menjadi unsur penunjang kebudayaan dan bahasa nasional. Oleh: Putra Batara September 10, 2014 …

Bahasa Alas di Aceh dan Sekelumit Perbedaan Diealeknya
Published :

Bahasa Alas adalah bahasa daerah yang masih dipelihara dengan baik oleh warga masyarakat Alas yang mendiami sebagian Kabupaten Aceh Tenggara. Selain berfungsi sebagai alat komunikasi antar keluarga dan antar masyarakat, bahasa ini juga merupakan unsur pendukung serta pengembang kebudayaan daerah,’ dan sekaligus menjadi unsur penunjang kebudayaan dan bahasa nasional.

Oleh: Putra Batara
September 10, 2014

Berdasarkan sejarah, saling memengaruhi antara bahasa Alas dan Batak telah terjalin ratusan tahun yang lalu. Harahap (1958:36) menulis bahwa menurut tambo keturunan Siraja Batak, dari Samosir berserak orang Batak ke pelosok Tanah Batak, yaitu: orang Gayo, Alas, Karo, dan Simalungun ke utara danau itu…. Bahkan Siahaan (1964:113) berkesimpulan bahwa pengaruh lingkungan menyebabkan kesadaran tergolong suku Batak semakin menipis.

Suku Alas dan Gayo tentu berbeda dengan suku Batak. Tetapi penyelidikan tentang sistem marga, hukum adat, dan bahasa dapat memberi kesimpulan bahwa banyak ciri yang sama antara ketiga suku itu, terutama antara suku Alas dan Batak.

Dari sudut struktur dan kosa kata terdapat banyak kesamaan dengan bahasa-bahasa Batak, yaitu Tapanuli Selatan (atau Mandailing dan Angkola), Toba, Dairi, Simalungun, dan Karo, tetapi bahasa Alas tidak memiliki aksara sebagaimana dimiliki oleh suku-suku Batak.

Pernah seorang ahli sejarah yang mengadakan penelitian di Aceh mengemukakan pendapatnya bahwa kefanatikan suku Alas terhadap agama Islam berakibatkan penulisan bahasa itu dengan aksara Arab, atau lebih dikenal dengan huruf Jawi. Pada saat itu orang tidak pernah berpikir bahwa pemilikan aksara sendiri adalah suatu lambang identitas serta kebanggaan daerah.

Bahasa Alas terbagi atas tiga variasi dialek, yaitu dialek Hulu, Tengah, dan Hilir. Dialek Tengah juga dikenal sebagai dialek Babussalam. Wilayah tiap dialek adalah sebagai berikut; Dialek Hulu meliputi Kecamatan Badar dan sebahagian kecil wilayah Kecamatan Lawe Alas.

Dialek Tengah atau Babussalam meliputi Kecamatan Babussalam, sebagian kecil wilayah Kecamatan Bambel, dan Kecamatan Lawe Alas. Dialek Hilir meliputi Kecamatan Lawe Alas, Kecamatan Bambel, dan sebagian dari Kecamatan Lawe Sigala-gala.

Di dalam kelima kecamatan ini terdapat pula penutur bahasa daerah lainnya, yaitu dialek Gayo Lues, bahasa Singkel, Karo, dan Batak. Di ibu kota Kutacane terdapat penutur bahasa campuran, yaitu bahasa Indonesia dan berbagai bahasa daerah yang terdapat di kabupaten itu.

Dasar untuk pembedaan pelbagai dialek suatu bahasa ialah bahwa sistem linguistik yang dipakai oleh penutur suatu dialek berbeda dalam hal tertentu dari sistem linguistik yang dipakai oleh penutur bahasa-bahasa yang lain. Pada bahasa Alas, perbedaan hanya terdapat pada dua aspek, yaitu aspek fonologis dan kosa kata. Dalam aspek sintaksis tidak terdapat perbedaan yang hakiki.

Perbedaan dalam aspek fonologis terjadi pada suara vokal, diftong, kesepadanan bunyi konsonan, dan ketidakhadiran semivokal /w/ dan / j / pada satu dialek, tetapi hadir pada dialek lainnya. Perbedaan dalam aspek fonologis adalah sebagai berikut;

Perbedaan suara vokal; contoh BI “kertas” = dialek hulu “köRtas” = dialek tengah “köRtas” = dialek Hilir “keRtas”. Perbedaan suara diftong; contoh BI “Api” = dialek hulu “apui” = dialek tengah “api” = dialek Hilir “api”. Kesepadanan bunyi konsonan; contoh BI “bayar” = dialek hulu “gayaR” = dialek tengah “bayaR” = dialek Hilir “bayaR”.

Kehadiran dan ketidakhadiran semivokal /w/ dan /j/; contoh BI “banyak” = dialek hulu “mbawe” = dialek tengah “mbue” = dialek Hilir “mbue”. Dan dari 200 responden, perbedaan antara dialek hulu, tengah, dan hilir, terdapat perbedaan kosa kata – 73 buah, dan Kesamaan kosa kata – 108 buah.

Berdasarkan pemaparan contoh di atas dan sesuai dengan pendapat Langecker (1968) bahwa…. “two people speak different dialects if their linguistic systems differ with respect to at least one trait” (dua suku bangsa bertutur dalam dialek yang berbeda jika sistem linguistiknya berbeda dalam hal paling sedikit satu sifat). Dalam hal ini, sifat yang membedakan ialah aspek-aspek fonologis dan kosa kata.

Akan tetapi, oleh karena perbedaan kosa kata antara dialek Tengah dan Hilir hanya 10%, maka kita simpulkan bahwa dalam bahasa Alas hanya terdapat perbedaan ragam. Dengan demikian, dalam bahasa Alas terdapat dua dialek, yaitu dialek Hulu dan dialek Tengah/Hilir yang lazim disebut dialek Babussalam.