Provinsi Lampung memiliki keanekaragaman budaya. Kebudayaan yang lahir dari berbagai suku di tanah Lampung. Salah satu suku yang memiliki sejarah panjang kebudayaan di daerah Lampung adalah Suku Abung. Lokasi suku Abung di provinsi Lampung berada tepat di bagian timur laut provinsi Lampung. Oleh: Putra Batara Oktober 7, 2014 Suku Abung berada pada posisi di sebelah …

Enam Pandangan Hidup Suku Abung, Lampung
Published :

Provinsi Lampung memiliki keanekaragaman budaya. Kebudayaan yang lahir dari berbagai suku di tanah Lampung. Salah satu suku yang memiliki sejarah panjang kebudayaan di daerah Lampung adalah Suku Abung. Lokasi suku Abung di provinsi Lampung berada tepat di bagian timur laut provinsi Lampung.

Oleh: Putra Batara
Oktober 7, 2014

Suku Abung berada pada posisi di sebelah utara yang dialiri sungai Tulang Bawang, sebelah barat berbatasan dengan daerah Lampung Utara dan Barat, sebelah selatannya berbatasan dengan Selat Sunda, dan sebelah timur berbatasan dengan Laut Jawa. Populasi masyarakat Abung di daerah tersebut adalah 500.000 jiwa. Mayoritas masyarakat Abung memeluk agama Islam.

Dalam masyarakat suku Abung terdapat tiga bagian kelompok yaitu: kelompok Abung, kelompok Abung Peminggir, dan kelompok Abung Pubian. Orang Abung terkenal dengan sebutan “Masyarakat Pegunungan” serta memiliki sejarah khusus dalam perkara berburu. Orang Abung tinggal di daerah pegunungan.

Orang Abung peminggir berada dan tinggal di daerah pesisir sepanjang pantai selatan Lampung. Orang Abung Pubian berada dan tinggal di bagian timur provinsi Lampung. Untuk percakapan sehari-hari, masyarakat suku Abung memiliki bahasa yaitu bahasa Abung yang sedikit beda dengan bahasa Melayu Riau.

Dalam kelompok-kelompok suku Abung terdapat sembilan marga yaitu Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupai.

Dalam kehidupan masyarakat Abung sehari-hari menerapkan prinsip dan keyakinan dalam melaksanakan aktivitas sosial, keagamaan dan lain-lain. Berikut Beberapa Pandangan Hidup Suku Abung yaitu:

Piil-Pusanggiri merupakan wujud dari rasa malu masyarakat Abung saat melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri. Masyarakat Abung menjaga harga diri mereka.

Sakai Sambaian yaitu sikap masyarakat Abung yang saling gotong royong, bahu membahu dan saling tolong menolong sesama masyarakat Abung dalam bentuk apapun.

Bejuluk Beadek yaitu berdasarkan pada “Titei Gemettei” yang diwarisi turun temurun dari sejak dulu. Tata ketentuang yang selalu diikuti “Titei Gemettei” termasuk antara lain adalah menghendaki seseorang disamping mempunyai nama juga gelar sebagai panggilan terhadapnya.

Juluk-Adok adalah masyarakat Abung mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya.

Nemui-Nyimah adalah aktivitas saling mengunjungi antar masyarakat Abung untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu. Selain itu, makna lainnya adalah masyarakat Abung yang ramah dan murah hati.

Nengah-Nyampur yaitu aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis. Masyarakat Abung terbuka terhadap kemajuan dan perkembangan zaman.