Sebagai salah satu ciri dari kebudayaan yang luar biasa adalah mengenal dan membuat perhitungan waktu. Orang Lio di Nusa Tenggara Timur mengenal sistem penghitungan waktu dan penanggalan yang khas, yang mereka buat, dan tentunya sesuai dengan “kebutuhan” mereka. Sistem kalender Orang Lio disebut Ngua Bapu . Perhitungannya berdasar pada Bumi (Tana Watu) dan Langit (Wula Leja). Tana …

Ngua Bapu; Pengetahuan Waktu dari Suku Lio
Published :

Sebagai salah satu ciri dari kebudayaan yang luar biasa adalah mengenal dan membuat perhitungan waktu. Orang Lio di Nusa Tenggara Timur mengenal sistem penghitungan waktu dan penanggalan yang khas, yang mereka buat, dan tentunya sesuai dengan “kebutuhan” mereka.

Sistem kalender Orang Lio disebut Ngua Bapu . Perhitungannya berdasar pada Bumi (Tana Watu) dan Langit (Wula Leja). Tana watu berarti sumber lahirnya kehidupan sedangkan Wula leja berarti kesuburan melalui curah hujan.

Penghitungan waktu ini juga didasarkan pada Wawi Toro bintang Antares yang terang-benderang pada gugusan Scorpio dan Wunu bintang Pleiades pada gugusan Bintang Tujuh atau Kartika.

Perhitungan kalender ini dimulai September-Oktober (Mapa-Wula Mapa More), pada bulan ini masyrakat Lio mengawali proses menanam benih. Di berbagai wilayah pada waktu ini dilakukan beberpa ritual diantaranya ritual Po’o Bhoro di Lise.

Upacara ini dimaksudkan untuk meminta kesuburan, pemurnian tanah dan “perkawinan kosmik” antara Du’a Gheta Lulu Wula dan Ngga’e Ghale Wena Tana, di Mbuli dilakukan ritual Ru’e Lime dengan maksud mengumpulkan bibit unggul seperti Pare, Jawa, Wete, Lolo, Lenga, Bue, Besi dan lain-lain.

“Pleiades, gugusan Bintang Tujuh atau Kartika”. Gambar dari NASA
“Pleiades, gugusan Bintang Tujuh atau Kartika”. Gambar dari NASA

Di wilayah Nua Ria-Detu Binga, Kecamatan Tana Wawo Kabupaten Sikka, juga dilaksanakan Upacara Loka Po’o seperti halnya di wilayah Lise. Di bulan-bulan ini seluruh masyarakat Lio yang tersebar di berbagai daerah secara serempak melakukan ritual penanaman benih meski dengan cara yang berbeda-beda.

Bulan kedua adalah bulan November- Desember (Wula More-Wula Nduru) atau biasa disebut juga dengan musim masa tanam (tedo). Pada waktu ini seluruh masyarakat secara serempak melakukan penanaman benih padi. Pada masa ini dilakukan ritual Gewu Wini atau mengaduk benih padi.

Ritual ini dilakukan ole wanita Lio yang tertua. Para wanita itu bertindak sebagai pengatur dan penjaga benih padi unggul. Ritual ini dilakukan secara turun temurun dari setiap generasi.

Ritual ini dimaksudkan untuk menghormati Ibu Padi (Ine Mbu) yang dianggap sebagai sosok manusia yang menjelma menjadi demi kesejahteraan umat manusia. Bulan ketiga adalah Januari-Februari (Wula Beke Ria – Beke Lo’o) pada waktu ini dikenali sebagai musim kelaparan dan musim wabaha tanaman.

Masyarakat Lio mengandalkan padi ladang, jagung dan umbi-umbian untuk makan. Mereka biasa mengatasi hal ini dengan membudidayakan hasil bumi seperti Menanam Pala, Kopi, Kemiri, Kakao, Kelapa. Bulan ke empat adalah bulan maret (Wula Fowo), waktu ini dikenal musim penyakit Nggua Uta.

Pada musim ini curah hujan mulai berkurang dan wabah penyakit bermunculan. Biasanya di waktu ini dilakukan ritual Kapoka sebagai wujud syukur kepada Tuhan.

Bulan lima adalah April – Mei (Wula Balu Re’e – Balu Jie), pada musim ini banyak masyarakat yang terserang wabah penyakit akibat iklim pancaroba. Memasuki bulan Mei (Wula Balu Ji’e) wabah penyakit mulai berkurang tetapi banyak roh-roh jahat bergentayangan.

Bulan ke enam adalah Juni-Juli (Wula Base- Base Ae), pada bulan ini hasil lading dipanen secara serentak. Setiap panane harus selalu dilakukan ritual Wisu lulu atau ritual ucap syukur atas hasil panen. Dan terakhir adalah bulan Agustus (Wula Base Gega), musim ini merupakan musim yang baik untuk melangsungkan pernikahan dan merekahnya pohon randu.

Sistem kalender orang Lio merupakan warisan leluhur yang menyiratkan pesan yang mendalam untuk seluruh generasi penerus Suku Lio. Melalui kearifan ini para leluhur mencoba menyampaikan esensi dari pepatah Watu, “Tana, Ae soli Nggua Bapu, Ana Mamo Sekolengo” yang berarti keharusan menjaga keharmonisan alam dan budaya yang diwariskan leluhur.

Dengan sistem penanggalan ini Suku Lio menciptakan keseimbangan dalam hidup. Pengaturan waktu, mengatur secara alamiah bagaimana siklus kehidupan berputar dan manusia menikmati dan mensyukuri hal tersebut dengan selalu menjaga bumi dan seisinya.