Gula disebut-sebut sebagai bahan tunggal terburuk yang terkandung dalam makanan-makanan ‘modern’. Anda mungkin pernah mendengar ini sebelumnya, bahwa gula mengandung sejumlah besar kalori dan tidak mengandung nutrisi penting. Tidak ada protein, lemak esensial, vitamin atau mineral dalam gula. Hanya energi murni. Oleh: Putra Batara FEBRUARI 16, 2016 Kalori kosong hanyalah puncak dari gunung es karena efek …

Mengurangi Gula; Mengurangi Penyakit
Published :

Gula disebut-sebut sebagai bahan tunggal terburuk yang terkandung dalam makanan-makanan ‘modern’. Anda mungkin pernah mendengar ini sebelumnya, bahwa gula mengandung sejumlah besar kalori dan tidak mengandung nutrisi penting. Tidak ada protein, lemak esensial, vitamin atau mineral dalam gula. Hanya energi murni.

Oleh: Putra Batara
FEBRUARI 16, 2016

Kalori kosong hanyalah puncak dari gunung es karena efek yang merugikan pada metabolisme dan justru berkontribusi untuk segala macam penyakit adalah yang tidak tampak.

Sebagai contoh, ketika memakan hingga 10-20% dari kalori gula (atau lebih), ini bisa menjadi masalah besar karena berkontribusi untuk kekurangan gizi.

Gula juga sangat buruk bagi gigi karena memberikan energi yang mudah dicerna oleh bakteri jahat di dalam mulut. Selain itu, gula merupakan penyebab adiktif bagi banyak orang karena pelepasan besar dopamin di otak.

Bagi mereka yang tidak bisa mentolerir itu, gula dapat menjadi sangat berbahaya.

Jika apa yang diutarakan di atas masih merupakan “sesuatu yang ringan” bagi Anda, berikut beberapa alasan lainnya mengapa Anda harus menghindari mengkonsumsi gula berlebih.

1. Penyebab Masalah Pada Hati.

Sebelum gula memasuki aliran darah dari saluran pencernaan, secara sederhana, gula akan dipecah menjadi dua: glukosa dan fruktosa. Glukosa ditemukan dalam setiap sel hidup di planet ini.

Dengan kata lain jika kita tidak mendapatkannya dari asupan makanan, tubuh kita memproduksinya. Fruktosa berbeda, tubuh kita tidak memproduksinya dalam jumlah yang signifikan dan kabar baiknya, kita tidak ada kebutuhan fisiologis untuk itu.

Fruktosa hanya dapat dimetabolisme oleh hati. Ini masih bukan masalah jika kita makan sedikit (seperti dari buah). Dalam hal ini, fruktosa akan berubah menjadi glikogen dan disimpan di hati sampai kita benar-benar membutuhkannya.

Namun, jika hati dipenuhi glikogen ini akan memaksanya untuk mengubah fruktosa menjadi lemak. Ketika berulang kali makan gula dalam jumlah banyak, proses ini dapat menyebabkan per-lemakan hati dan segala macam masalah serius.

Ketika fruktosa berubah menjadi lemak di hati, itu dikirim keluar sebagai partikel kolesterol VLDL (*Very low-density lipoprotein*). Namun, tidak semua lemak keluar, beberapa di antaranya akan menumpuk dalam hati.

Hal ini lah yang dapat menyebabkan *Non-alkohol Fatty Liver Disease* (NAFLD) yang sangat terkait dengan penyakit metabolik.

2. Resistansi Insulin

Banyak studi menunjukkan bahwa konsumsi gula terkait dengan resistensi insulin, terutama bila dikonsumsi dalam jumlah besar. Insulin adalah hormon yang sangat penting dalam tubuh.

Hal ini memungkinkan glukosa (gula darah) untuk memasuki sel dari aliran darah dan memberitahu sel untuk mulai membakar glukosa bukan lemak.

Memiliki terlalu banyak glukosa dalam darah sangat beracun dan menyebabkan resistensi terhadap hormon insulin, yang dapat berkontribusi terhadap banyak penyakit.

Ketika sel-sel kita menjadi resisten terhadap efek insulin, sel-sel beta di pankreas dipaksa berbuat lebih dari biasanya. Ini sangat penting terjadi karena kronis meningkat gula dalam darah dapat menyebabkan kerusakan parah.

Akhirnya, resistensi insulin kemudian menjadi semakin buruk, pankreas tidak dapat menyaingi permintaan produksi cakupan insulin untuk menjaga kadar gula darah turun.

3. Diabetes

Salah satu fitur dari disfungsi metabolik adalah bahwa insulin berhenti bekerja sebagaimana mestinya. Sel-sel menjadi “tahan” untuk itu.

Hal ini yang dikenal sebagai resistensi insulin dan pada gilirannya diyakini menjadi salah satu pendorong utama banyak penyakit termasuk sindrom metabolik, obesitas, penyakit jantung, dan terutama diabetes.

Mengingat bahwa gula dapat menyebabkan resistensi insulin, itu tidak mengejutkan untuk melihat bahwa orang yang minum minuman manis memiliki hingga risiko 83% lebih tinggi terserang diabetes.

Pada titik ini, kadar gula darah yang meroket memungkinkan diagnosis diabetes yang anda punya menjadi lebih berbahaya.

4. Penyebab Kanker

Kanker adalah salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia dan ditandai oleh pertumbuhan yang tidak terkendali dan multiplikasi tumbuhnya sel. Insulin adalah salah satu hormon penting dalam mengatur dan mengontrol pertumbuhan itu.

Untuk alasan ini, banyak ilmuwan percaya bahwa kadar insulin yang dipaksa terus meningkat—akibat konsumsi gula berlebih—dapat berkontribusi untuk kanker.

Selain itu, masalah metabolisme yang terkait dengan konsumsi gula adalah pemicu peradangan, penyebab potensial lain dari kanker.

Tapi beberapa studi memang jelas menunjukkan bahwa orang yang makan banyak gula berada pada risiko lebih tinggi terkena kanker dibanding mereka yang kurang tau tidak sama sekali mengkonsumsi gula.

5. Efek pada Hormon dan Otak

Tidak semua kalori diciptakan sama. Makanan yang berbeda dapat memiliki efek yang berbeda pada otak kita dan hormon yang mengontrol asupan makanan.

Studi menunjukkan bahwa fruktosa tidak memiliki jenis yang sama dari efek pada rasa kenyang pada glukosa.

Dalam sebuah penelitian, peminum fruktosa memiliki aktivitas lebih sedikit di pusat-pusat kenyang otak dan cenderung merasa lapar.

Ada juga studi di mana fruktosa tidak menurunkan hormon ghrelin rasa lapar hampir sebanyak yang dilakukan glukosa. Seiring waktu, karena kalori dari gula yang tidak memuaskan, maka asupan kalori meningkat.

6. Obesitas

Cara gula mempengaruhi hormon dan otak adalah resep untuk bencana yang menguntungkan bagi timbunan lemak.

Hal ini menyebabkan penurunan rasa kenyang dan bisa membuat orang kecanduan sehingga mereka kehilangan kontrol atas konsumsi keseharian mereka.

Tidak mengherankan, orang yang mengkonsumsi gula lebih banyak, menjadi kelebihan berat badan atau obesitas. Hal ini berlaku untuk semua kelompok umur.

Banyak studi telah meneliti hubungan antara konsumsi gula dan obesitas dan menemukan hubungan statistik yang kuat. Hubungan ini terutama kuat pada anak-anak, dengan 60% peningkatan risiko obesitas.

7. Kolesterol hingga Penyakit Jantung

Untuk beberapa dekade, orang menyalahkan lemak jenuh untuk penyakit jantung yang merupakan penyebab kematian paling banyak di dunia. Namun, studi baru menunjukkan bahwa lemak jenuh masih kalah berbahaya jika dibandingkan gula.

Bukti menunjukan bahwa gula menjadi salah satu pemicu utama penyakit jantung melalui efek fruktosa pada metabolisme.

Studi menunjukkan bahwa sejumlah besar fruktosa dapat meningkatkan trigliserida, Low-density lipoprotein (LDL) padat, dan LDL teroksidasi.

Ini awalnya mungkin hanya meningkatkan kadar glukosa dan insulin darah dan meningkatkan obesitas yang lambat laut adalah faktor risiko utama untuk penyakit jantung.

Tidak mengherankan, banyak studi dan observasi menemukan hubungan statistik yang kuat antara konsumsi gula dan risiko penyakit jantung.