Seorang wanita berusia 67 tahun memiliki kadar yang tinggi atas High Density Lipoprotein (HDL)—’kolesterol baik’ yang dianggap mampu memberikan perlindungan bagi kesehatan koroner—namun arterinya dilapisi dengan plak. Oleh: Putra Batara Maret 15, 2016 Dilansir sciencemag.org (10/3/2016), kasus paradoks tersebut telah memotivasi tim ilmuwan untuk menunjukkan bagaimana HDL tinggi kadang-kadang tidak dapat menjadi sinyal baik bagi …

HDL Tinggi Belum Tentu Mengindikasikan Sesuatu yang Baik
Published :

Seorang wanita berusia 67 tahun memiliki kadar yang tinggi atas High Density Lipoprotein (HDL)—’kolesterol baik’ yang dianggap mampu memberikan perlindungan bagi kesehatan koroner—namun arterinya dilapisi dengan plak.

Oleh: Putra Batara
Maret 15, 2016

Dilansir sciencemag.org (10/3/2016), kasus paradoks tersebut telah memotivasi tim ilmuwan untuk menunjukkan bagaimana HDL tinggi kadang-kadang tidak dapat menjadi sinyal baik bagi kesehatan jantung, tetapi sebaliknya.

Dalam 10 tahun terakhir, partikel HDL telah banyak diperbincangkan para ilmuwan. Peran normal protein dalam plasma darah dan lemak ini adalah untuk mengangkut kolesterol dari seluruh tubuh ke hati, untuk dibuang (dalam empedu).

“Tidak ada yang pernah sederhana jika menyangkut HDL,” kata Jay Heinecke, seorang ahli biokimia University of Washington, Seattle, yang telah mempelajari HDL selama bertahun-tahun.

Dalam edisi jurnal online science.com minggu kemarin, Daniel Rader, ahli genetika dan lipidologist di University of Pennsylvania, bersama rekan-rekannya telah menunjukkan bahwa jumlah HDL kurang begitu penting jika dibandingkan dengan tingkat efisiensinya.

Rader mendapati kesimpulannya itu melalui serangkaian uji laboratorium terhadap tikus. Metode yang dikembangkan oleh Monty Krieger di Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, sekitar 20 tahun yang lalu.

Tikus-tikus itu telah melalui serangkaian ‘rekayasa’ genetika, khususnya gen SCARB1, hingga mempunyai HDL yang tinggi. Tapi keanehan yang muncul adalah arteri-nya justru sangat tersumbat.

“Tikus itu benar-benar mendapatkan serangan jantung,” kata Heinecke. “Itu karena sistem untuk memindahkan kolesterol dari tubuh tikus itu telah rusak.”

Biasanya, partikel HDL akan mengumpulkan kolesterol dari sel-sel kekebalan yang melapis arteri, dan kemudian menumpuk deposit beban mereka di hati sehingga siklus bisa dimulai lagi.

Rader bertanya-tanya apakah hal yang sama mungkin terjadi pada manusia. Dia dan rekan-rekannya kemudian mulai melakukan studi terhadap gen dari 852 orang yang memiliki HDL sangat tinggi.

Mereka menemukan satu orang wanita, berumur 67 tahun yang tidak memiliki salinan fungsi gen SCARB1 dan didapati timbunan plak dalam jumlah banyak pada arterinya. HDL-nya adalah 152 mg/dl, jauh di atas rata-rata sekitar 62 mg/dl untuk wanita se-usianya.

Delapan belas orang lain memiliki hanya satu salinan fungsional SCARB1—biasanya terdapat dua—dan kebanyakan dari mereka juga memiliki HDL yang tinggi.

Kasus ini terjadi seperti pada percobaan tikus, HDL berlimpah namun mereka gagal untuk mengangkut kolesterol secara efektif melalui tubuh.

Rader kemudian meminta bantuan kepada rekan-rekannya yang telah mengumpulkan sampel DNA dari ratusan ribu orang untuk studi lipid dan penyakit jantung.

Ia menemukan lagi 284 orang yang hanya memiliki satu salinan fungsi SCARB1. Namun tidak ada orang lain seperti kasus wanita pertama, dengan kedua salinan SCARB1-nya hilang. Sebagian besar orang-orang ini juga memiliki HDL yang tinggi dan melebihi rata-rata.

Sekitar 80% dari mereka juga lebih mungkin untuk memiliki masalah arteri koroner dan bisa mengalami peningkatan risiko yang lain, seperti diabetes dan hipertensi.

“Ini adalah indikasi kunci apa yang orang telah duga dari studi hewan,” kata Alan Tinggi, seorang peneliti HDL di Columbia University. “Tampaknya HDL lebih tinggi karena fluks yang terblokir, bukan karena HDL telah unggul dalam menjaga kolesterol di arteri”.

Namun, karena Rader hanya bisa menemukan sedikit kasus dengan SCARB1 yang sepenuhnya tidak berfungsi, juga karena efek potensial dari mutasi pada kesehatan jantung muncul cukup sederhana, hubungan antara transportasi HDL yang ‘rusak’ dan masalah jantung ini menurutnya masih sangat lemah.

Perilaku HDL tidak selalu mencerminkan apa yang dilakukannya di dalam tubuh. Jan Albert Kuivenhoven, yang mempelajari genetika metabolisme lipid di University Medical Center Groningen di Belanda, mengatakan: “Kami tidak memiliki cara yang baik untuk melakukan tes dengan HDL yang benar-benar bisa mengetahui apa yang terjadi dalam diri seseorang.”

Rader dan Kuivenhoven sepakat mengatakan bahwa HDL tetap masih merupakan sesuatu yang sangat kompleks. Tapi secara keseluruhan, bagaimanapun, akan muncul sebuah pertanyaan tentang fungsi HDL yang tinggi terhadap jantung.

Pada akhirnya, Rader mengatakan, Ia ingin memberi tahu, “HDL Anda tinggi karena X, dan itu hal yang baik,” dan untuk kasus yang lain, “HDL Anda tinggi karena Y, dan itu hal yang buruk.”

Selain itu, Rader dan juga beberapa peneliti lainnya kini masih terus menggali faktor-faktor yang mungkin dan atau dapat berpotensi terhadap masalah HDL ini. Sehingga bisa diketahui bagaimana cara untuk mengatasinya.