Negara-negara di dunia pada tahun lalu hanya sepakat untuk mencoba membatasi pemanasan global ke tingkat yang lebih bisa ditolelir. Tetapi para ilmuwan kembali memperingatkan bahwa bahaya pemanasan global benar-benar harus ditangani lebih serius. Oleh: Putra Batara Maret 25, 2016 “Kita terancam oleh tindakan manusia yang tidak terkendali,” kata James E. Hansen, ilmuwan pensiun NASA yang …

Ilmuwan Peringatkan Bahaya Pemanasan Global dalam Hitungan Dekade
Published :

Negara-negara di dunia pada tahun lalu hanya sepakat untuk mencoba membatasi pemanasan global ke tingkat yang lebih bisa ditolelir. Tetapi para ilmuwan kembali memperingatkan bahwa bahaya pemanasan global benar-benar harus ditangani lebih serius.

Oleh: Putra Batara

Maret 25, 2016

“Kita terancam oleh tindakan manusia yang tidak terkendali,” kata James E. Hansen, ilmuwan pensiun NASA yang baru saja menerbitkan penelitanya pada hari Selasa (22/3) dalam Jurnal Ilmu Pengetahuan “Atmospheric Chemistry and Physics”.

Tahun lalu, versi draf dari makalah yang dibuat Dr.Hansen pernah diterbitkan, hal tersebut sempat menjadi perbincangan dan perdebatan di antara para ilmuwan.

Dasar pembahasan dari makalah itu adalah peningkatan penggunaan bahan bakar fosil dan pemakaiannya yang membabi buta hingga memerangkap panas ke atmosfer.

Pembahasan spesifiknya, peneliti meyakini bahwa air yang mengalir ke lautan akibat pencairan es akan memicu umpan balik yang menyebabkan bagian-bagian dari lapisan es besar di Greenland dan Antartika terpecah dengan cepat.

Pecahnya sebagian besar lapisan es kutub dan kenaikan laut dapat menenggelamkan kota-kota pesisir di dunia sebelum akhir abad ini. Itu akan menjadi akibat terburuk yang bisa terjadi di zaman modern ini.

“Beberapa pembahasan dalam catatan ini memang luar biasa,” kata Michael E. Mann, ilmuwan dari Pennsylvania State University, dilansir dari nytimes.com.

“Mereka bertentangan dengan pemahaman utama dari perubahan iklim yang memerlukan standar pembuktian cukup tinggi,” tambahnya.

Makalah yang ditulis oleh Dr. Hansen beserta 18 penulis lainnya itu, juga membahas tentang pemanasan alami yang terjadi di Bumi sekitar 120.000 tahun lalu.

Diperkirakan panasnya hanya sedikit lebih tinggi dari Bumi masa ini. Potongan besar es di kutub hancur, dan permukaan laut kemudian naik 6 sampai 10 meter.

Para ilmuwan umumnya sepakat bahwa manusia adalah penyebab terjadinya pemanasa global. Tetapi beberapa cenderung berasumsi bahwa kemungkinan terburuk akan terjadi setelah berabad-abad.

Makalah ini justru berpendapat bahwa hal itu bisa terjadi jauh lebih cepat, kasus terburuknya adalah akan terjadi kenaikan permukaan laut menjadi beberapa meter dalam 50 tahun ke depan.

“Itu berarti hilangnya semua kota-kota pesisir, sebagian besar kota-kota besar di dunia dan semua sejarah mereka,” kata Dr. Hansen.

Gagasan utama yang sepertinya ingin disampaikan dalam makalah itu adalah bahwa mencair-nya lembaran es akan menutup air pada permukaan laut dekat Antartika dan Greenland.

Hal itu akan memperlambat atau bahkan mematikan sistem arus laut yang dapat mendistribusikan panas, hanya berputar di planet ini dan sedikit yang dapat ke luar.

Pemikiran mengenai matinya sirkulasi laut karena pemanasan global dianggap sudah terjadi lebih dari satu dekade yang lalu. Ada juga yang menyimpulkan bahwa hal tersebut terjadi karena melemahnya arus laut, dan matinya sirkulasi laut yang sesungguhnya, tidak mungkin terjadi di abad ini.

Namun makalah ini sepertinya dapat membuka kembali perdebatan itu. Meskipun dapat dipastikan memakan waktu beberapa tahun bagi para ahli untuk mencapai sebuah konsensus.

Dr. Hansen bagaimana pun bukan lah ilmuwan yang sembarangan. Ia menghabiskan puluhan tahun di unit penelitian iklim NASA di Manhattan, sebelum pensiun pada 2013. Beliau sekarang mengepalai pusat penelitian yang diciptakan khusus untuknya di Columbia University.

James E. Hansen adalah orang yang pertama—jika bukan satu-satunya—yang pada tahun 1988 memperingatkan bahaya pemanasan global sudah di mulai. Pemikirannya berada di barisan paling depan dari konsensus ilmiah pada masa itu.

Apa yang diutarakan Dr. Hansen menjadi jelas dalam beberapa studi yang banyak dilakukan kemudian; bahwa bumi memang ada di tengah-tengah periode pemanasan global yang berlangsung sangat cepat.

Tidak mengherankan jika para ilmuwan, pengambil kebijakan, dan pemerhati kini benar-benar patut mewaspadai apa yang menjadi pembahasan di makalah baru Dr. Hansen itu. Pemikiran-pemikirannya perlu dianggap lebih serius.

Pertama kali publish di Inddit.com