Apa yang pertama kali ter-lintas ketika mendengar kata hutan? Pepohonan yang rindang? Satwa liar seperti monyet, gajah atau harimau? Atau mata air jernih yang mengalir tenang? Hal-hal tersebut sebetulnya adalah komponen dari hutan. Oleh: Popi Puspitasari September 7, 2016 Lalu apa definisi hutan itu? Menurut Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, pengertian hutan di …

Sekilas tentang Hutan dan Hasil Hutan Indonesia
Published :

Apa yang pertama kali ter-lintas ketika mendengar kata hutan? Pepohonan yang rindang? Satwa liar seperti monyet, gajah atau harimau? Atau mata air jernih yang mengalir tenang? Hal-hal tersebut sebetulnya adalah komponen dari hutan.

Oleh: Popi Puspitasari
September 7, 2016

Lalu apa definisi hutan itu? Menurut Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, pengertian hutan di Indonesia adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungan, satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan.

Jika merujuk definisi tersebut maka hutan adalah suatu sistem yang mempunyai komponen yang saling berhubungan. Hutan menyediakan sumber daya (hayati dan non hayati) yang dapat dimanfaatkan manusia untuk menunjang kelangsungan hidup yang disebut hasil hutan.

Hasil Hutan Kayu

Hasil hutan terbagi dalam dua jenis yaitu hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu. Kayu telah lama digunakan manusia untuk berbagai keperluan diantaranya untuk membangun tempat tinggal, bahan pembuat pekakas, bahan baku kertas, dll.

Letak Indonesia di wilayah sekitar khatulistiwa menyebabkan Indonesia mempunyai tipe hutan hujan tropis, tipe hutan ini mempunyai curah hujan dan keanekaragaman hayati yang tinggi termasuk jenis kayu yang dihasilkan, kayu yang berasal dari hutan hujan tropis (atau disebut kayu tropis) memiliki keunggulan terutama dalam hal kekuatan dan keawetan juga keindahannya, oleh karena itu kayu tropis menjadi kayu yang sangat laku diperdagangkan.

Berdasarkan penelitian diperkirakan ada 4000 jenis kayu di Indonesia (Martawijaya , et al. 1981) dari jumlah tersebut diperkirakan 400 jenis kayu yang dianggap penting baru sebagian diketahui sifat dan kegunaannya. Dua ratus enam puluh tujuh jenis di antaranya sudah dikenal dalam perdagangan dan dapat dikelompokkan menjadi 120 jenis kayu perdagangan.

Hutan dan Hasil Hutan
120 Kelompok Jenis Kayu Perdagangan Indonesia

Keterangan Tabel Jenis Kayu Perdagangan

Kelas Awet adalah tingkat kekuatan alami sesuatu jenis kayu terhadap serangan hama dinyatakan dalam kelas awet I, II, III. Makin besar angka kelasnya makin rendah keawetannya.

Kelas Kuat adalah tingkat ketahanan alami suatu jenis kayu terhadap kekuatan mekanis (beban) dinyatakan dalam Kelas Kuat I, II, III, IV dan V. Makin besar angka kelasnya makin rendah kekuatannya.

Arti Angka penyebaran: (1) Sumatera, (2) Jawa, (3) Kalimantan, (4) Sulawesi, (5) Maluku, (6) Nusa Tenggara, (7) Papua

Arti Angka kegunaan : (1) Bangunan, (2) Kayu lapis, (3) Mebel, (4) Lantai, (5) Papan dinding, (6) Bantalan, (7) Rangka pintu dan jendela, (8) Bahan pembungkus, (9) Alat olah raga dan musik, (10) Tiang listrik dan telepon, (11) Perkapalan, (12) Patung, ukiran & kerajinan tangan, (13) Finir mewah, (14) Korek api, (15) Pulp, (16) Alat gambar, (17) Potlot, (18) Arang, (19) Obat-obatan, (20) Moulding.

Perdagangan kayu di Indonesia mencapai masa ‘emas’ pada kurun waktu 70-an sampai awal 90-an. Setelah itu berbagai faktor menyebabkan hutan Indonesia mengalami deforestasi yang cukup tinggi sehingga produksi kayu makin menurun, hal tersebut berdampak terhadap industri kayu itu sendiri.

Ketika kayu masih menjadi primadona, perusahaan pemegang HPH (Hak Pengusahaan Hutan) adalah pihak yang paling banyak mengelola hutan alam untuk produksi kayu sedangkan sekarang dengan menurunnya luas hutan alam di Indonesia Hutan Tanaman Industri (HTI) menjadi harapan kelangsungan produksi kayu di Indonesia.

Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)

Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Tidak kalah dengan kayu, jenis HHBK di Indonesia ini juga sangat beragam.

Berdasarkan jenis produknya HHBK dapat dikelompokkan menjadi HHBK yang Berasal dari Tumbuhan dan Tanaman serta HHBK yang Berasal Dari Hewan, berikut diantaranya:

– Resin seperti Damar, Gaharu, Kemenyan

– Minyak atsiri seperti minyak Kayu Putih, minyak akar wangi, minyak Ekaliptus

– Minyak lemak seperti minyak Jarak, minyak Kemiri, Tengkawang

– Pati seperti sagu dan aren

– Tannin, bahan pewarna dan getah seperti pewarna angsana, getah karet hutan dan getah jelutung

– Buah-buahan seperti Cempedak, Asam Jawa, Matoa, Durian, dll

– Tumbuhan obat seperti ekstrak buah Adhas, Daun kering Bintangur, ekstrak batang Brotowali

– Tanaman hias seperti Anggrek, Beringin, Talas-talasan

– Rotan dan bambu

HHBK yang Berasal Dari Hewan berupa tangkapan hidup hewan seperti buaya (untuk penangkaran), madu, sutera alam dan lain-lain.

Foto oleh Popi Forestian
“Pekerja sedang mengangkut rotan di salah satu dermaga di Banjarmasin”. Foto oleh Popi Forestian

Beberapa jenis HHBK mungkin terdengar asing dan tidak se-populer kayu, akan tetapi produk turunannya justru dibutuhkan dan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Beragamnya jenis HHBK merupakan potensi yang sangat besar untuk dikembangkan, terlebih pemerintah Indonesia telah menetapkan HHBK sebagai salah satu strategi andalan pengembangan, terutama rotan.

Diperkirakan ada sekitar 350 jenis rotan tetapi baru sekitar 51 jenis saja yang bisa dimanfaatkan. Dari semua itu, sekitar 6-7 jenis yang diperdagangkan secara komersial.

Indonesia mensuplai sekitar 80 % kebutuhan rotan dunia, industri rotan Indonesia sangat menjanjikan karena didukung oleh kemampuan dan keterampilan dalam mengolah rotan.

Rotan untuk keperluan industri didatangkan dari Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi sedangkan pengolahannya di daerah Cirebon, Solo, dan wilayah sekitarnya.

Selain hasil hutan yang berupa benda, hutan juga menyediakan ‘jasa lingkungan’. Diantaranya pengatur tata air meliputi penyedia air bersih dan pengendalian banjir, penyerapan karbon, keindahan lanskap (wisata), dan lain-lain.