Pertanian di ladang atau dengan kata lain bercocok tanam yang terdapat di daerah hutan rimba tropik. Menurut peta bumi, daerah hutan tropik terletak di sekitar khatulistiwa kira-kira 50 sampai 100 ke utara dan selatan, maka Jambi adalah salah satu daerah yang berda dalam ketegori di atas. Maka sudah tentu masyarakat Jambi banyak mengenal bentuk dan …

Ketika Orang Jambi Berladang; Praktik Solidaritas
Published :

Pertanian di ladang atau dengan kata lain bercocok tanam yang terdapat di daerah hutan rimba tropik. Menurut peta bumi, daerah hutan tropik terletak di sekitar khatulistiwa kira-kira 50 sampai 100 ke utara dan selatan, maka Jambi adalah salah satu daerah yang berda dalam ketegori di atas. Maka sudah tentu masyarakat Jambi banyak mengenal bentuk dan cara pertanian di ladang.

Oleh: Putra Batara
September 22, 2016

Berbagai kegiatan pertanian dalam bentuk bercocok tanam di ladang telah menjadi unsur kehidupan yang amat penting dalam corak kehidupan masyarakat. Karena umumnya masyarakat di daerah Jambi masih menggantungkan hidup terutama dari segi bercocok tanam di ladang. Sebutan lokal untuk jenis-jenis ladang adalah; Perelak, kebun mudo, umo renah, dan umo talang.

Perelak adalah sebidang tanah yang terletak di sekitar pedesaan yang ditanami dengan berbagai jenis tanaman, tetapi difokuskan pada jenis tanaman kebutuhan dapur sehari-hari. Seperti; cabai, kacang gulai, kunyit, dll.

Kebun mudo ialah sebidang tanah yang sebagian besar ditanami jenis tanaman tertentu serta diselingi oleh berbagai jenis tanaman lainnya. Misal, kebun pisan diselingi tanaman kacang kedelai. Jadi kebun mudo adalah kebun yang ditanami sejenis tanaman yang umurnya cukup panjang tapi bukan jenis tanaman keras.

Umo renah, ialah ladang yang cukup luas terbentang pada sebidang tanah yang subur dan rata, terdapat di pinggir-pinggir sungai, atau di lereng-lereng pegunungan yang mendatar. Benih yang dimasukkan ke dalam lubang-lubang tanah diseling dengan benih jenis tanaman lain.

Sementara umo talang adalah ladang yang dibuat di dalam hutan besar yang jauh dari pedesaan, serta tidak terletak di pinggiran sungai. Sarana penghubung ke ladang biasanya hanya jalan setapak. Pada umo talang terdapat sebuah pondok yang cukup kuat untuk tempat perlindungan keluarga batih petani menunggu ladang sampai masa panen selesai.

Di samping keempat jenis ladang, maka sebutan umo di daerah Jambi mengacu pada jenis hutan yang digarap. Umo Rimbo, atau huma rimba ialah ladang yang dibuat di hutan rimba yang belum pernah digarap oleh manusia.

Umo beluka tuo, atau huma belukar tua ialah ladang yang dibuat orang di hutan yang kayunya besar-besar, tetapi pernah dibuat ladang oleh nenek moyang.

Umo beluka mudo, atau huma belukar muda ialah ladang yang dibuat di hutan-hutan yang kayunya masih berumur muda. Umo sesap, atau huma sesap, ialah ladang yang dibuat dari bekas ladang yang belum lama ditinggalkan.

Untuk menentukan kapan mereka akan berladang, biasanya pemuka-pemuka adat dan tua-tua tengganai dari suatu dusun mengadakan suatau kemufakatan untuk menentukan waktu dimulainya kegiatan berladang bagi seleuruh warga dusun.

Waktu yang dipilih biasanya di waktu musim panas, dengan harapan proses pembersihan hutan selesai hingga pada musim penghujan sudah siap ditanami.

Dalam rangka penentuan lokasi, di samping melihat kesuburan tanahnya, juga ditinjau kapasitas lahan tersebut menampung warga dusun secara berkelompok berladang pada suatu tempat.

Kemudian barulah ditentukan pilihan tanah ladang masing-masing. Luasnya ladang seseorang tergantung pada kemampuan dari tenaga penggarapnya. Ladang diatur secara berderet menurut arah datar tanah. ada pun maksud mereka berladang berkelompok pada suatu tempat, untuk mengurangi dampak gangguan binatang liar.

Bagi warga dusun yang lemah tenaganya, mungkin cacat jasmani, lemah fisik dan sebagainya, serta orang-orang yang dianggap berjasa dalam pergaulan hidupnya dengan sesama warga dusun, seperti; dukun bayi, guru mengaji, dan lain-lain, ladangnya ditempatkan di tengah-tengah deretan ladang. Pada waktu-waktu tertentu semua warga dusun bergotong-royong mengerjakan ladangnya.

Sehingga dengan cara demikian orang-orang seperti itu dapat membuka tanah ladang yang memadai. Proses berladang merupakan organisasi seluruh warga masyarakat dusun tersebut. Inilah bentuk solidaritas masyarakat Jambi dalam berladang.