Karena masa penulisannya yang tidak muasir itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian jika orang bermaksud menggunakan naskah sebagai sumber sejarah, termasuk naskah-naskah yang sebenarnya menyebut dirinya sejarah, hikayat, asal-usul, silsilah, carita, tambo,atau babad. Betapapun, nama-nama yang disandangnya itu dapat dimanfaatkan sebagai sumber sejarah. Melalui kajiannya mengenai Sajarah Banten, misalnya, P.A.A. Husein Jayadiningrat (1913) berhasil menunjukkan bahwa …

Naskah dan Sejarah; “Kebenaran” Sejarah dalam Naskah
Published :
Oleh: Ayatrohaedi*

Karena masa penulisannya yang tidak muasir itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian jika orang bermaksud menggunakan naskah sebagai sumber sejarah, termasuk naskah-naskah yang sebenarnya menyebut dirinya sejarah, hikayat, asal-usul, silsilah, carita, tambo,atau babad. Betapapun, nama-nama yang disandangnya itu dapat dimanfaatkan sebagai sumber sejarah.

Melalui kajiannya mengenai Sajarah Banten, misalnya, P.A.A. Husein Jayadiningrat (1913) berhasil menunjukkan bahwa naskah pun benar-benar dapat digunakan sebagai sumber sejarah.

Memang diperlukan penanganan secara khusus, terutama embarannya harus terlebih dulu dikaji-bandingkan dengan embaran dalam Berbagai sumber sejarah lain yang dianggap lebih absah, misalnya saja berita asing yang muasir.

Terlepas dari penilaian, apakah simpulan Husein itu dapat diterima atau tidak, satu hal yang pasti ialah, dengan karyanya itu Husein dianggap sebagai “bapak” metodologi penelitian sejarah di Indonesia, terutama di dalam pemanfaatan naskah sebagai sumbernya.

Hingga saat ini, tampaknya naskah Sunda (dalam artian “naskah”) tertua yang dimaksudkan sebagai “kisah sejarah” adalah Carita Par-hyangan(1580).

Pada mulanya para ahli meragukan keabsahan naskah itu sebagai sumber sejarah, mengingat embarannya dimulai dengan semacam mitos tentang Batara Guru, disambung kisah seekor burung, baru kemudian tokoh-tokoh yang mungkin pernah hidup di muka bumi ini. Keraguan mulai berkurang, setelah dilakukan kaji-banding dengan sumber sejarah yang lain, yaitu prasasti.

Tokoh Sanjaya dan Sena pada naskah itu, ternyata ditemukan pada prasasti Sthirangga atau Canggal (732 M), walaupun agak berbeda. Demikian juga embarannya mengenai peristiwa Bubat, dikuatkan oleh beberapa naskah berbahasa Jawa (Pararaton, Kidung Sunda)

Sedangkan peristiwa penyerbuan pasukan Islam ke Kerajaan Sunda yang oleh Husein diduga terjadi dalam tahun 1579 M, justru menutup kisah sejarah Carita Parahyangan.

Berdasarkan adanya dukungan-dukungan sumber lain itu, naskah Carita Parahyanganpun tidak lagi dianggap sebagai sekadar “dongeng”; sampai batas dan taraf tertentu, naskah itu sudah berperan sebagai sumber sejarah.

Dalam pada itu, ada naskah yang sebenarnya lebih kahotdaripada Carita Parahyangan,yaitu Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian(1518 M). Walaupun tidak dimaksudkan sebagai kisah sejarah, ternyata naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian (SSKK)justru dapat berperan men­dudukkan kehadiran tokoh sejarah, yaitu Prabu Siliwangi.

Menurut Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian,pada awal abad ke-16 itu, di lingkungan masyarakat Sunda baru dikenal empat buah carita pantun, satu di antaranya carita pantun Siliwangi.Apakah nama itu ada hubungannya, baik langsung maupun tidak, dengan tokoh Prabu Siliwangi yang hingga kini masih belum jelas identifikasinya itu?

Menurut beberapa ahli (Mohammad Amir Sutaarga, Saleh Danasasmita [almarhum], Hasan Mua’arif Ambari), Prabu Siliwangi yang dikenal sebagai Sri Baduga Maharaja atau Ratu Purana, yaitu penguasa Kerajaan “Pajajaran” (sebenarnya Kerajaan Sunda) yang memerintah selama 39 tahun (1482-1521).

Embaran mengenai masa pemerintahan itu, diperoleh dari naskah Carita Parahyangantentang raja Jayadewata; artinya, Jayadewata (Carita Parahyangan)adalah Sri Baduga Maharaja (Prasasti Batutulis) atau Prabu Siliwangi (tradisi lisan, carita pantun).

Dengan mendasarkan pendapat kepada berbagai sumber, baik tradisi lisan, prasasti, naskah, dan berita asing, terutama yang menggam­barkan bagaimana keadaan masyarakat Sunda pada masa kekuasaan Prabu Siliwangi.

Saya justru sampai kepada simpulan bahwa (antara lain juga berkat keterangan Sanghyang Siksa Kanda ng Karesianmengenai carita pantun Siliwangi) Prabu Siliwangi bukan Sri Baduga Maharaja, melainkan kakeknya, yaitu Niskala Wastukancana.

Sedemikian jauh, naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesianjuga merupakan salah satu sumber penting untuk sampai kepada simpulan bahwa Prabu Siliwangi haruslah tokoh yang berkuasa sebelum tahun 1518.

Berdasarkan Carita Parahyangan dapat diketahui bahwa Niskala Wastukancana berkuasa selama 104 tahun, dan jika peristiwa Bubat (1357) dijadikan salah satu titik untuk menentukan masa pemerintahannya, diperkirakan bahwa Niskala Wastukancana berkuasa antara 1371-1475 Masehi.

Jadi, sebelum naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian ditulis, dan pada masa Islam baru mulai menyebar di Tanah Sunda. Padahal, ketika Sri Baduga Maharaja berkuasa, Islam sudah mulai mengancam kewibawaan Kerajaan Sunda.

Namun, mana di antara kedua pendapat itu yang “benar”, sangat tergantung kepada bagaimana cara orang menafsirkan sumber sejarah yang ada, di samping juga seberapa jauh ia menemukan dan mengguna­kan sumber baru untuk menunjang pendapatnya itu.

Demikianlah, hingga saat ini, masih senantiasa terbuka bagi siapa pun untuk mempunyai pilihan sendiri, bukan saja mengenai Prabu Siliwangi, melainkan juga tentang peristiwa dan tokoh sejarah yang lain.

*Ayatrohaedi adalah arkeolog dan Sastrawan Indonesia yang banyak menghasilkan karya dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Di bidang kebahasaan, kesusastraan, kesejarahan, kebudayaan dan kepurbakalaan Sunda, Namanya sudah tidak asing lagi | Depok, 20 Januari 1989